Imam Al Ghazali sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam.
Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad ath-Thusi asy-Syafii al-Ghazali, lebih terkenal dengan sebutan Imam al-Ghazali atau Hujjah al-Islam. Beliau dilahirkan pada tanggal 14 Jumadil Akhir 450 H / 18 Desember 1058 M di Thus yang pada waktu itu termasuk ke dalam wilayah Khurasan, Persia atau Iran pada saat ini.
Sejak kecil telah ditinggal mati orang tuanya. Beliau kemudian di asuh dan dibesarkan oleh sahabat ayahandanya. Sejak kecil pula ia sudah menaruh perhatian pada pendidikan sehingga menguasai berbagai disiplin keilmuan pada masa itu. Beliau menguasai fiqih, seni berdebat, mantiq (logika), hikmah dan sangat mendalami filsafat. Dia adalah murid Imam al-Haromain.
Al-Haromain menilai Ghazali adalah lautan yang menenggelamkan (bahrun ‘amiq). Setelah gurunya meninggal, al- Ghazali menemui Nizam al-Muluk dan di majlisnya itu sang Mentri dibuat terkagum-kagum atas kehebatan dan ketinggian ilmunya yang mampu menguasai forum ulama dan para imam. Sehingga beliau diangkat sebagai professor pada madrasah as-Shohib di Baghdad dengan gaji tinggi dan kesejahteraan yang lebih dari cukup.
Beberapa tahun kemudian, ia meninggalkan kedudukan itu dan berangkat ke Masjidil Haram untuk berhaji serta berniat meninggalkan kilauan dunia untuk mengabdi hanya kepada Allah swt. dan akhirat. Setelah itu beliau kembali ke Damaskus dan menetap di salah satu pojok masjid Ummawi. Di sinilah ia mulai membiasakan diri untuk hidup zuhud dan wara’ dengan memakai kain yang kasar, mempersedikit makan dan minum. Di tempat ini pula ia mulai menulis Ihya Ulumuddin, karyanya yang sangat monumental.
Ia kemudian kembali ke Baghdad dan mendirikan majlis taklim sendiri dengan mendasarkan kajiannya pada kitab ihya-nya. Beberapa waktu kemudian ia kembali lagi ke Khurasan dan mengajar pada Madrasah Nizamiyah di Nisabur beberapa saat sebelum akhirnya ke Thus dan menjadikan rumahnya sebagai tempat taklim fikih dan sufisme. Di sinilah ia menghabiskan waktu untuk mengajar, menulis dan memperbanyak berdzikir, membaca al-Qur’an dan beribadah hingga akhir napasnya di dunia. Hingga meninggal dunia pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H atau 19 Desember 1111 M dengan meninggalkan banyak karya.
Dunia Islam memberikan gelar kehormatan kepadanya dengan sebutan Hujjah al-Islam (pembela Islam) karena kegigihan dan jasa-jasanya dalam membela Islam dari gencarnya gempuran arus pemikiran yang dikha¬watirkan dapat mengancam eksistensi Islam, baik dari kalangan filosof, mutakallimin, batiniyah, dan sufi.
Al-Ghazali merupakan sosok ilmuwan dan penulis produktif. Berbagai tulisannya telah menarik perhatian dunia. Bahkan para pemikir Barat abad pertengahan, seperti Raymond Martin, Thomas Aquinas dan Pascal ditengarai banyak dipengaruhi oleh pemikiran al-Ghazali. Ia diperkirakan telah menghasilkan 300 karya tulis dari berbagai disiplin ilmu. Seperti logika,filsafat, moral, tafsir, fiqih, ilmu-ilmu al-Qur’an, tasawuf, politik, administrasi dan perilaku ekonomi. Namun, yang ada hingga kini hanya 84 buah. Diantaranya, Ihya’ Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, Tahafut al-Falasaifah, Minhaj Al-Abidin, Qawaid al-Aqaid, Al-Musthasfa min ‘ilm al-Ushul, Misykat al-Anwar, Kimia al-Sa’adah, al-Wajiz, Syifa al-Ghalil dan al-Tibr al Masbuk fi Nasihat al Muluk


Posting Komentar