“Visi tanpa aksi adalah angan-angan dan aksi tanpa misi hanya aktivitas dan rutinitas yang menjenuhkan.”
Menurut data Kementrian Koperasi dan (UKM) usaha kecil menegah, pengusaha di Indonesia masih sangat minim sekali sekitar 0,13 persen. “ Idealnya untuk menjadi negara maju Indonesia harus memiliki 2 persen pengusaha dari jumlah populasinya,” ujar Deputi V Kementrian Koperasi dan UKM, Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Prakoso Budi Susetyo,SE, MM.
Namun sayang, hanya beberapa gelintir orang saja yang memiliki jiwa kewirausahaan. Sehingga timbul banyaknya pengangguran intelektual, akibat tidak seimbangnya lapangan pekerjaan dengan jumlah pencari kerja.Rupanya masih ada sisa-sisa penjajahan yang menjadikan masyarakat Indonesia bermental karyawan.
Untuk membangkitkan kembali jiwa kewirausahaan para generasi muda, kini banyak digelar seminar dan workshop kewirausahaan dengan tema ekonomi kreatif. Harapannya, dapat menggugah masyarakat menjadi pelaku ekonomi kreatif dan mampu bersaing dalam perekonomian global ini. Pasalnya, pasar Indonesia sudah banyak dikuasai asing dari produk makanan, pakaian, elektronik dan lainnya.
Dan anehnya lagi, masyarakat Indonesia sangat berbangga diri ketika membeli barang-barang produk luar negeri dibanding produk negeri sendiri. Contoh sederhananya, buah impor lebih laku daripada buah lokal. Bahkan pasar tradisional kini mulai terpinggirkan dengan bangunan-bangunan swalayan megah.
Padahal negeri ini kaya akan sumber daya alam, jumlah populasi manusianya pun juga banyak. Sebenarnya kita mampu mengalahkan pasar-pasar asing itu, hanya saja kurang motifasi diri dan dorongan pemerintah untuk memajukan perekonomian pedagang-pedagang kecil yang hanya dipandang sebelah mata dan susah mencari dana untuk mengembangkan usaha.
Direktur BMT (Baitul Maal wa Tamwil) Beringharjo, Dra. Mursyida Rambe memotivasi Mahasiswa agar terjun ke dunia wirausaha dan menciptakan lapangan pekerjaan setelah lulus. “ Jangan sibuk bikin lamaran kesana-sini, tapi buatlah lapangan pekerjaan,” paparnya saat mengisi seminar nasional bertema ekonomi kreatif di kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jangan takut untuk memulai usaha, kata dia, tidak ada yang sia-sia ketika kita melangkahkan kaki dengan keyakinan yang ada. Tapi yakin saja tidak cukup,jika bermimpi menjadi pengusaha hebat harus punya aksi yang hebat juga. “ kalau hanya duduk-duduk saja ya mimpi hanya tinggal mimpi,” tukasnya.
Menurut Rambe, Visi tanpa aksi adalah angan-angan dan aksi tanpa misi hanya aktivitas. Dan seseorang akan jenuh dengan aktivitas dan rutinitas itu. “ Generasi muda sudah saatnya berwirausaha sejak duduk di bangku kuliah,” ujar Rambe.
“ BMT Beringharjo bisa seperti sekarang ini bermodalkan uang satu juta rupiah. Namun karena keyakinannya dibarengi dengan aksi dan misi menolong para pedagang kecil, kini dapat menghadirkan 11 kantor cabang yang tersebar di Pulau Jawa,” ungkapnya.
Hal senada dikatakan oleh Achmad Tjahtja, ketua Bidang Koperasi Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), Seorang pengusaha tidak hanya melihat bisnis dari sisi profit, tetapi juga bisa menjalankannya sesuai dengan syariat Islam.
Menurut dia, para pengusaha muda Indonesia masih banyak yang berorientasi pada tujuan kekayaan. Selalu omzet yang menjadi tujuan dalam mengembangkan bisnis. Padahal, kata Tjahtja, berbisnis tidak melulu bicara omzet. "Dalam bisnis, perlu juga dikembangkan nilai-nilai religius yang sesuai nilai syariah, seperti sistem berbagi dan nonribawi" tegasnya.
Untuk itu, ADI meluncurkan program Syaripreunuer dengan tujuan untuk menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru yang menjalankan usaha sesuai dengan syariat Islam. program ini diberikan kepada dosen-dosen di Indonesia untuk menjadi bekal bagi mereka dalam menciptakan calon-calon wirausaha di kampus.
Tidak hanya pelatihan, ucap Achmad, dosen juga diberi modal bergulir untuk mengimplementasikan teori yang diberikan kepada mahasiswa. “ Dosen diberi kesempatan berwirausaha agar bisa dicontoh oleh mahasiswanya,” kata Achmad.


Posting Komentar