NASEHAT TENTANG KEMATIAN
Ada dua macam sang penasehat, yang bersuara dan tidak bersuara. Kedua nasehat tersebut tidak henti-hentinya memberi nasehat kepada manusia. Manusia selalu membutuhkan macam-macam nasehat yang selalu mengajak manusia ke arah ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab hati ini kadang membatu, keruh, karatan, keras,dan dibarengi dengan pikiran yang lalai akan apa itu tujuan hidup yang sesungguhnya, dunia yang terus menerus menipu hati dan pikiran kita, nafsu-pun menyuruh kita untuk berbuat kemaksiatan dan keburukan-keburukan akhlak lainnya dan setan-pun melulu bersikukuh untuk menyesatkan Anak Adam.Nah,dari sinilah kita sangat dan harus memerlukan dari pada nasehat itu sendiri yang bisa mengingatkan dan mengajak kita untuk selalu berbuat kebaikan (Amal Ma’ruf Nahi Mungkar).
Kedua nasehat tersebut adalah AL QUR’AN dan KEMATIAN, pagi dan petang Al-Qur’an selalu memperdengarkan ayat-ayat Allah Ta’ala. Al-Qur’an mengingatkan umat manusia dan menyadarkan mereka yang lalai akan tujuan hidupnya. Pun menambah keimanan orang-orang Mukmin, ”Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an orang yang takut kepada ancamanku”. (QS.QAF:45).
Kematian Adalah Penasehat Yang Tidak Bersuara.
Kematian senantiasa menyertai kita pagi dan petang, dalam keadaan senang atau bahagia ataupun sebaliknya. Kematian adalah nasehat dan penasehat yang paling utama dan berharga. Tetapi terkadang manusia tuli dan buta akan nasehat yang satu ini. Mereka selalu rutin mengikuti acara prosesi pemakaman, tetapi hati dan matanya sudah terlanjur keras, buta dan tuli, sehingga peristiwa apa yang telah ia saksikan sama sekali tidak membekas di hati dan benak pikirannya. Mereka sudah asyik disibukkan oleh urusan-urusan dunia, mengejar kesenangan sesaat yang menipu. Mereka lupa bahwa ada satu perkara besar yang selalu tak lelah mengintai dan mengancam jiwanya (Kematian), mereka lupa akan nasehat yang satu ini.Menurut anda adakah nasehat yang lebih agung lagi dari pada nasehat kematian ini? penulis mengira anda akan menjawab TIDAK ADA! Apabila di hadapan anda ada sosok orang yang hidup, yang wajahnya berseri-seri, lisannya fasih bertutur kata dan memiliki keinginan akan kenikmatan dunia, akan tetapi wajah yang berseri-seri tadi memucat pasi, tubuh yang tadi terlihat segar bugar tiba-tiba berubah menjadi kaku tak bergerak, lisan yang tadi fasih berbicara tiba-tiba bungkam seribu bahasa dan sosok manusia yang sedap dipandang, ternyata sudah dikebumikan ke liang kubur.
Kematian Adalah Hakekat GAIB Yang Benar-Benar nyata
Ada Kematian dikatakan benar-benar ada karena disaksikan oleh mata kepala manusia itu sendiri. Dan disebut gaib karena tidak ingin diingat-ingat oleh manusia itu sendiri. Kalau saja manusia itu suka mengingat akan kematian, pastilah ia akan lebih taqwa dan berhati-hati dalam manjalani keseharian kehidupannya.Rasulullah SAW pernah bersabda,”Umatku yang paling cerdas adalah mereka yang suka mengingat Kematian”.Kematian Lebih Dekat Dari kejapan Mata
Apakah anda mengira bahwa kematian masih jauh di sana? Apakah anda juga mengira bahwa kematian datang di hari tua saja? Sebagai seorang mukmin, tentunya anda menjawab TIDAK! Kejadian Kiamat itu terjadi seperti kejapan mata saja atau bahkan lebih cepat lagi {An-Nahl:77}. Kiamat yang dimaksudkan ayat di atas adalah yang berlaku umum dan tiap-tiap orang akan menghadapinya. Jika kematian datang, berarti ia tengah menghadapi Kiamatnya. Kematian ibarat kejapan mata, hanyalah garis tipis yang membedakan antara kehidupan dan kematian.Nah, sudahkah kita bersiap diri untuk menyambut kematian tersebut? Sudah yakinkah anda dengan segala amal ibadah anda selama ini bisa menolong anda di hadapan Allah kelak? Sudahkah anda pantas disebut sebagai mukmin sejati dengan segala amal ubudiah anda selama ini? sudahkah anda beristiqamah di dalam menjalani perintah dan larangan Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan?
Dari sekian banyak soal intropeksi diri tadi, diri kitalah yang berhak dan mampu menjawabnya dengan kondisi ruhaniah kita masing-masing.Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki dan menambah tabungan amal ibadah kita. Allah akan selalu menerima setiap niatan dan amal kebajikan kita, dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepadanya. Jangan merasa sudah terlanjur banyak dosa dan noda, sehingga anda putus asa dari rahmat Allah Ta’ala.
Selama nyawa masih di badan, segala bentuk kata taubat akan selalu diterima oleh Allah Ta’ala. Maka dari itu, mari kita bersama-sama membersihkan hati dan diri kita dari segala kotoran dosa dan maksiat yang menyebabkan kita semakin jauh dari NUR Allah Ta’ala. Ulama salaf ”Waqi’” bertutur pesan kepada muridnya Imam Syafi’i “Jauhilah maksiat, karena sesungguhnya ilmu Allah itu adalah NUR atau cahaya yang suci. Dan cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada ahli maksiat”. Orang yang gemar melakukan dosa dan maksiat tidak akan mendapat NUR Allah, kalaupun dapat pasti tidak membawa Berkah bagi kemaslahatan umat. Bertolak dari sinilah, kita sebagai barisan penuntut Nur atau ilmu Allah,harus bergegas membersihkan diri dari segala kubangan dosa dan maksiat kepada Allah. Shalat jama’ah, puasa sunah dan sedekah-nya harus kita tingkatkan lagi demi meraih mardhotillah (Ridho Allah) Wallahu A’lam…..
Demikian pembicaraan kita dalam tema "Nasehat tentang kematian". semaga bermanfaat. Salam AkuCintaAllah.Com


Posting Komentar