Headlines News :

    Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

    Bakti Anak Sepanjang Masa


    Aku Cinta Allah.com--------Setelah beranjak dewasa kebanyakan orang sibuk dengan urusan dunianya, khususnya mereka yang menjadi pengusaha ataupun karyawan di sebuah perusahaan. Pekerjaan yang tak kunjung selesai  hingga larut malam, rapat di berbagai tempat, hingga pekerjaan yang mengharuskan pergi ke luar kota atau bahkan keluar negeri.

    Sehingga lupa orang tua yang membesarkannya tidak lagi terurus, dan mudahnya mengambil jalan pintas mencarikan pembantu khusus atau menaruh mereka dipanti jompo dengan alasan agar masa tua mereka tenang dan tidak mengganggu kehidupan.

    Sungguh kehidupan seperti ini bukan hanya tayangan televisi belaka, ini kehidupan nyata dan banyak sekali dijumpai di tengah kehidupan masyarakat. Mereka yang tua tersingkirkan karena dianggap mengganggu kehidupan. Padahal, orang tua lah yang telah membuat masa depan kita menjadi lebih baik, mendidik kita tanpa rasa lelah, dan selalu ada di saat senang maupun duka.

    Hanya anak durhaka yang memperlakukan orang tuanya seperti itu. Dan mereka termasuk orang-orang yang merugi, sebagaimana Rasulullah saw bersabda : “ Rugilah dia, rugilah dia, rugilah dia.” Ada yang bertanya, “ Siapakah orang itu, wahai Rasulullah? ” Rasul menjawab : “ Orang yang sempat bertemu dengan kedua orang tuanya atau salah satunya dalam usia lanjut, Tetapi dia tidak masuk surge karena tidak berbakti kepadanya.” (HR.MUSLIM).

    Ketahuilah, sampai kapan pun kasih sayang orang tua tak akan pernah bisa tergantikan dengan sesuatu apapun. Sekali pun materi setinggi gunung, kemewahan seluas samudera, tetap saja yang mereka inginkan melihat anaknya bahagia bahkan tanpa meminta balas jasa.

    Bakti seorang anak terhadap orang tua pun  tidak selesai hingga mereka menutup usia. Setelah mereka wafat kita harus tetap berbakti kepada mereka. Bagaimana caranya?

    Menurut hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada kebaikan yang dapat aku lakukan guna berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat ?. Sabda Rasulullah saw: “ Ada, yaitu Membacakan shalawat untuk mereka, memintakan ampun atas dosa-dosanya, memenuhi janji mereka yang belum terlaksana, menyambung tali persaudaraan yang dahulu biasa mereka lakukan dan menghormati sahabat-sahabat mereka.”


    Dua hadis di atas merupakan peringatan bagi kita semua bahwa bakti anak kepada orang tua sepanjang masa. Selain itu, jangan sampai kita menyesal ketika mereka telah tiada walaupun harus tetap berbakti dengan mendoakan mereka.

    Di sisi lain, masa tua mereka akan kembali kemasa kanak-kanaknya. Dimana mereka sering lupa ( pikun ) mengucapkan sesuatu berulang-ulang, jalan yang semakin menunduk. Sebagai anak, kita harus bersabar dan selalu siap di samping mereka. Jangan marah dengan keadaan mereka atau bahkan manyakiti perasaannya dengan ucapan kasar. Tetapi tersenyumlah dan cintailah mereka sebagaimana mereka mencintai kita di saat kita lahir hingga tumbuh dewasa.

    Para pembaca budiman, selagi masih memiliki orang tua jangan pernah sia-siakan mereka. Jika selama ini  jarang memperhatikan mereka, mulailah dengan memberikan perhatian,berkata lembut, membantu kesulitan mereka, dan selalu berikan yang terbaik untuk kedua orang tua. Dan jangan biarkan air mata penyesalan hadir disaat mereka tiada karena di saat itu pula air mata penyesalan tidak lagi berguna.

    Dan bagi yang sudah tidak memiliki orang tua, atau salah satu diantaranya, ikutilah pesan Rasulullah saw untuk selalu mendoakan, membacakan shalawat, dan memintakan ampun untuk mereka.

    Jangan Makan Berlebihan dan Hindarilah Hutang


    Wasiat Lukman Al-Hakim

    Wahai Anakku...
    " Apabila kantung perutmu penuh padat, pikiranmu akan tidur, Hikmah kebijaksanaanmu menjadi tumpul dan anggota badanmu akan lemah dalam mengamalkan ibadah.
    Hindarilah berhutang, ia adalah kehinaan pada siang hari dan keresahan pada malam hari."

    renungan untuk kita semua,bahwasanya benar jika dikatakan makanlah sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. karena pada dasarnya sesuatu yang berlebihan dapat menimbulkan bencana. dapat kita lihat dari wasiat Lukman diatas, ketika seseorang yang perutnya penuh atau kekenyangan, maka tidak mudah untuk berfikir bahkan cenderung

    kebanyakan orang sesudah makan matanya pun turut terpejam, sehingga melalaikan semua pekerjaan.
     untuk itu sangat jelas sekali makan lah untuk kebutuhan bukan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.

    nasehat Lukman yang kedua, mengajak kita untuk bekerja keras agar dapat meraih sesuatu yang kita inginkan, tidak terbuai dengan produk-produk manis diawal tetapi mencekam di akhir, salah satunya kartu utang yang diterbitkan industri perbankan yang memanjakan para pemiliknya untuk membeli barang-barang yang bahkan tidak dibutuhkannya.

    orang yang mempunyai utang selalu merasa resah dan hidup nya pun tak tenang, karena masih ada tanggungan yang harus diselesaikannya. bahkan Rasulullah saw tidak mau menyolati jenazah yang perkara utang nya belum selesai.

    boleh berhutang jika dalam keadaan terdesak, namun harus segera dikembalikan ketika kita sudah dapat mengembalikannya dan tidak boleh ditunda-tunda. selain itu, boleh berhutang untuksesuatu yang bermanfaat, misalkan untuk membuka usaha dimana kita tidak memiliki cukup dana, namun sekali lagi harus segera dikembalikan dan tidak boleh curang.

    semoga Wasiat Lukman ini dapat menerangi pikiran para pembaca agar terhindar dari dua hal tersebut, yaitu makan yang berlebihan dan berhutang untuk kesenangan.

    Fungsi Mengenal Diri untuk Mengenal Allah Swt

    ILMU MENGENAL "DIRI"

    PENGENALAN

    Kebanyakkan  manusia pada hari ini menganggap bahawa  "Hidup" itu hanyalah makan, bergerak, mencari kemewahan, bekerja dan lain lain lagi, mereka mengangap bahawa jasad kasar mereka itu hidup dengan sendiri nya yang membolehkan mereka melakukan kerja kerja harian mereka itu, tapi pernah kah mereka terfikir bahawa jasad mereka itu sebenar nya ialah benda mati yang tidak dapat hidup dan bergerak dengan sendiri nya  tanpa ada sesuatu yang menghidupkan nya?

    Ketahuilah tanpa yang hidup itu jasad tidak ada artinya. Tetapi benda mati ini lah yang dijaga dan diutamakan orang di dunia ini. Sedangkan semua tahu bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di bakar. Ini menunjukkan mati ialah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi meninggalakan jasad.

    Dimanakah letaknya yang di panggil hidup itu? Yang mana dengan adanya yang hidup itu lah jasad kita ini hidup dan   sebenarnya ia diam di dalam jasad kita sendiri, dan dia lah yang di panggil "DIRI" sebenar "DIRI"  dan menghidupkan jasad kita ini. Tapi pernah kah kita terfikir tentang "DIRI" itu atau cuba mencari dan mengenal nya.

    Tentu nya soal yang akan timbul ialah dari mana "DIRI" itu, dimana letaknya "DIRI" itu, terdiri dari apakah "DIRI" itu, dan kemanakah perginya "DIRI" itu apabila jasad mati atau dengan lain perkataan "DIRI" meninggalkan jasad???  dan yang penting sekali bolehkah kita mengenal "DIRI" sebenar "DIRI" kita itu.

    BARANG SIAPA MENGENAL "DIRI" NESCAYA KENAL LAH IA AKAN TUHAN NYA

    Benarkah bila kita mengenal "DIRI" maka kita akan mengenal Tuhan ??

    Kita semua tahu bahawa ujud nya roh!  Tak ada sesiapa yang dapat menafikan kenyataan ini, Kerana semasa Tuhan bertanya kepada sekelian Roh  " siapa kah Tuhan kamu " dengan sepontan sekelian Roh menjawab " bahkan " yang membawa makna mereka telah pun mengenal Tuhan yang esa.:

    Kisah Roh memasukki jasad Adam

    Setelah jasad Adam terbaring maka Tuhan telah memerintahkan Roh memasukki ke jasad Adam, tetapi sebelum itu Roh  telah bertanya " dimanakah harus aku masukki, ya ALLAH "  dan ALLAH pun menjawab " masuk lah mana mana yang kamu senangi "  Maka masuk lah Roh melalui hidung dan dengan itu maka bernafaslah kita melalui hidung.

    Ini menunjukkan bahawa sesudah Roh memasukki badan, maka barulah bermulanya kehidupan kepada jasad dan terbukti di sini bahawa Roh lah yang dikatakan penghidup kepada jasad, dan mati pada jasad ialah apabila Roh keluar apabila sampai ajal nya.


    Jasad kasar kita ini terdiri dari 2 yaitu:

    1. Dihidupkan

    Apakah maksud dihidupkan dan bahagian mana?   Yang dihidupkan ialah Jasad kasar kita ini, ia nya di hidupkan oleh ""Roh"" yang berada di dalam Jasad. "Roh" memasukki jasad semasa kita 100 hari dalam rahim ibu kita. "Aku tiupkan sebagian dari roh ku" kata firman Allah. Sejak itu lah kita hidup di dalam rahim ibu kita dan kemudian di lahirkan kedunia dan terus menjalankan kehidupan dari bayi hingga lah akhir hayat.

    2. Menghidupkan

    Yang menghidupkan ialah roh, yang datangnya (diciptakan) dari Allah, yang memasuki jasad dan terus hidup, tugas roh ialah menghidupkan jasad tetapi sayang nya jasad tidak langsung terfikir bahawa roh lah yang hidup sebenar benar hidup dan menghidupkan jasad yang bila mana roh meninggalkan nya maka matilah dia di panggil orang dan di tanam atau di bakar.

    MATI  IALAH  APABILA  ROH  MENINGGALKAN  JASAD

    Jadi siapakan yang berkepentingan disini, tentunya jasad kerana tanpa roh maka jasad tidak bermaana langsung.

    Jasad perlukan roh untuk hidup tapi kenapa roh tidak dipedulikan semasa hidup nya

    Perlukah roh di kenali?

    Sebelum mengenal Roh  haruslah kita mengenal "DIRI"

    "BARANG  SIAPA  MENGENAL  "DIRI"  MAKA  KENALLAH  DIA  AKAN  TUHAN  NYA"


    APA  KAH  "DIRI" ITU"

    Untuk pengetahuan semua bahawa "DIRI" itu mendatang kemudian setelah roh memasukki jasad, bagaimana ini berlaku?

    Apabila Roh berada di dalam Jasad maka perkembangan cahaya Roh itu yang memenuhi dalaman Jasad keseluruhan nya, ini telah menyebabkan ujudnya "Diri" yang  berupa  saperti jasad nya memenuhi ruang dalaman jasad nya..

    Maka ujudlah "Diri" sebenar "Diri" dan "DIRI"  ini lah yang harus di kenal.

    (kenal lah diri maka kenal tuhan)

    BAGAIMANA  MENGENAL "DIRI" SEBENAR "DIRI"

    Ada berbagai cara dan kaedah digunakan untuk mengenal "DIRI" ini, bergantung kepada perguruan dan kaedah guru guru mengajar kepada murid murid nya. Semua perguruan ini betul dan cara apa sekali pun di gunakan, tujuan nya satu ya itu untuk mengenal "DIRI" sebenar "DIRI" .

    Untuk mengenal "DIRI" ini ada 3 cara:

        Terbuka dengan sendiri nya
        Ushakan sendiri untuk membukanya
        Dibukan oleh guru. (guru guru yang berpengalaman)

    Apakah yang di maksudkan “dibuka”

    Di buka maksudnya ialah membukakan jalan jalan pancaran cahaya "DIRI" itu hingga keluar dari jasad dan terpancarlah cahaya "DIRI" itu keluar dari jasad melalui jalan jalan nya dan dengan rasa yang bergetar getar pada jalan keluar nya, rasa ini dapat dirasakan dengan nyata oleh murid murid yang mempelajari ilmu ini.

    Ini lah rahsia hidup kita dan "DIRI" ini lah yang menghidupkan jasad selagi ada hayatnya di dunia ini, "DIRI" ini harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita, kerana ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, di dunia dan akhirat, Insyaallah.

    Kenal kah "DIRI" tadi kepada Tuhan nya? Sudah tentu kerana dia datang dari sana, dari MAHA pencipta dan MAHA besar.

    Banyak lag persoalan yang akan timbul apabila kita dapat mengenal "DIRI" kita yang sebenar benar "DIRI" ini, kita harus belajar dari "DIRI" ini:

    Dia mengetahui kerana dia datang dari yang MAHA mengetahui

    Dia bijak kerana datang dari yang MAHA bijaksana

    Dia lah sebaik baik Guru

    Kehidupan sebenar ialah di dalam, dan kehidupan dunia ini mendatang kemudian

    Kesimpulan nya kenali lah "DIRI" kita ini yang dia lah sebenar benar "DIRI" dan kemukakan lah dia dalam segala urusan kita di dunia ini sementara menunggu hari yang kekal abadi, kerana dia kekal kerana di kekalkan.

    Ilmu Mengenal "DIRI" ialah satu ilmu pengetahuan yang harus di ketahui oleh semua orang kerana tiap tiap maanusia membawanya di dalam jasad kasar mereka, harus kah penghidup jasad kita ini kita biarkan begitu saja tanpa mengenali dan merasakan nya, hanya semasa maut hampir datang menjemput baru kita sedar yang dia akan meninggalkan kita?????

    Keberuntungan

    KEBERUNTUNGAN

    1. Keberuntungan berpihak kepada yang berupaya, bukan kepada yang hanya menunggu.

    2. Keberuntungan tidak setia kepada kita, kecuali kita setia kepada perilaku yang memberuntungkan.

    3. Konsep Pemalas: Keberuntungan adalah keuntungan yang didapat TANPA upaya. Hati-hati, ini sangat salah!

    4. Keberuntungan, SERATUS PERSEN, adalah kualitas yang dianugerahkan Tuhan kepada jiwa yang patuh kepadaNya.



    5. Tragis: Ke-bejo-an (keberuntungan) seorang pekerja keras dijadikan dalil oleh pemalas.

    6. Salah satu rahasia saya untuk menjadi beruntung adalah memperlakukan istri sebagai sumber keberuntungan.

    7. Sesungguhnya, apakah yang kita lakukan di hati, pikiran, dan dalam tindakan, yang tidak untuk keberuntungan?

    8. Keberuntungan bukanlah tujuan. Keberuntungan adalah hasil dari proses yang baik. Berfokuslah pada cara hidup yang baik.

    9. Sikap yang menjadikanmu pembahagia sesama, adalah sikap yang menjadikan keberuntungan dan rezeki dengan ramah tertarik kepadamu.

    Semoga Tuhan menjadikan hari ini pembuka bagi keberuntungan-keberuntungan baik dan besar di hari-hari yang panjang ke depan.

    Aamiin

    Mario Teguh – Loving you all as always

    MEMPERBAIKI DIRI SEBELUM MEMPERBAIKI SISTEM

    Diri dan Sistem

    DI ANTARA prioritas yang dianggap sangat penting  dalam  usaha perbaikan   (ishlah)   ialah   memberikan  perhatian  terhadap pembinaan  individu   sebelum   membangun   masyarakat;   atau memperbaiki  diri  sebelum  memperbaiki  sistem dan institusi.
    Yang paling tepat ialah  apabila  kita  mempergunakan  istilah
    yang  dipakai  oleh  al-Qur'an yang berkaitan dengan perbaikan
    diri ini; yaitu:

       "...Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu
       kaum sehingga mereka mengubah keaduan yang ada pada
       diri mereka sendiri..." (ar-Ra'd: 11)

    Inilah  sebenarnya  yang  menjadi  dasar  bagi  setiap   usaha
    perbaikan,  perubahan,  dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang
    dimulai dari individu, yang menjadi  fondasi  bangunan  secara
    menyeluruh.  Karena  kita tidak bisa berharap untuk mendirikan
    sebuah  bangunan  yang  selamat  dan  kokoh  kalau   batu-batu
    fondasinya keropos dan rusak.

    Individu   manusia   merupakan  batu  pertama  dalam  bangunan
    masyarakat. Oleh sebab itu, setiap usaha yang diupayakan untuk
    membentuk  manusia  Muslim yang benar dan mendidiknya --dengan
    pendidikan Islam yang sempurna-- harus diberi  prioritas  atas
    usaha-usaha  yang  lain. Karena sesungguhnya usaha pembentukan
    manusia Muslim yang sejati sangat diperlukan bagi segala macam
    pembinaan  dan  perbaikan.  Itulah  pembinaan  yang  berkaitan
    dengan diri manusia.

    Sesungguhnya pembinaan manusia secara individual untuk menjadi
    manusia yang salih merupakan tuga utama para nabi Allah, tugas
    para khalifah pengganti nabi, dan para pewaris setelah mereka.

    Pertama-tama yang harus dibina dalam diri manusia ialah  iman.
    Yaitu  menanamkan  aqidah  yang  benar  di dalam hatinya, yang
    meluruskan pandangannya terhadap  dunia,  manusia,  kehidupan,
    dan  tuhan  alam semesta, Pencipta manusia, pemberi kehidupan.
    Aqidah  yang  mengenalkan  kepada  manusia  mengenai  prinsip,
    perjalanan dan tujuan hidupnya di dunia ini. Aqidah yang dapat
    menjawab pelbagai pertanyaan yang  sangat  membingungkan  bagi
    orang  yang  tidak  beragama:  "Siapa  saya? Dari manakah saya
    berasal? Akan kemanakah perjalan hidup saya? Mengapa saya  ada
    di  dunia  ini?  Apakah  arti hidup dan mati? Apa yang terjadi
    sebelum adanya kehidupan? Dan apakah yang akan terjadi setelah
    kematian? Apakah misi saya di atas planet ini sejak saya masih
    di alam konsepsi hingga saya meninggal dunia?

    Iman  --bukan  yang  lain--  adalah  yang  memberikan  jawaban
    memuaskan  bagi  manusia  terhadap pertanyaan-pertanyaan besar
    berkaitan dengan perjalanan hidup manusia itu.  Ia  memberikan
    tujuan,  muatan makna, dan nilai bagi kehidupannya. Tanpa iman
    manusia akan menjadi debu-debu halus yang  tidak  berharga  di
    alam wujud ini, dan sama sekali tidak bernilai jika dihadapkan
    kepada kumpulan benda di alam semesta yang sangat besar.  Umur
    manusia   tidak   ada  apa-apanya  kalau  dibandingkan  dengan
    perjalanan geologis yang berkesinambungan pada  alam  semesta,
    dan  yang  akan  terus  berlangsung  dan  tidak akan berakhir.
    Kekuatan Manusia tidak akan ada apa-apanya kalau  dibandingkan
    dengan  pelbagai  kejadian  di  alam  semesta  yang  mengancam
    keselamatannya; seperti: gempa  bumi,  gunung  meletus,  angin
    ribut,  banjir,  yang  merusak  dan  membunuh  manusia. Ketika
    berhadapan dengan  pelbagai  peristiwa  alamiah  itu,  manusia
    tidak  dapat  berbuat  apa-apa,  walaupun  dia  mempunyai ilmu
    pengetahuan, kemauan, dan teknologi canggih.

    Selamanya, iman merupakan  pembawa  keselamatan.  Dengan  iman
    kita  dapat  mengubah  jati diri manusia, dan memperbaiki segi
    batiniahnya. Kita tidak dapat menggiring manusia seperti  kita
    menggiring  binatang ternak; dan kita tidak dapat membentuknya
    sebagaimana kita membentuk peralatan rumah tangga yang terbuat
    dari besi, perak atau bijih tambang yang lainnya.

    Manusia  harus  digerakkan  melalui akal dan hatinya. Ia harus
    diberi kepuasan sehingga  dapat  merasakan  kepuasan  itu.  Ia
    harus  diberi petunjuk agar dapat meniti jalan yang lurus; dan
    ia harus digembirakan dan diberi peringatan,  agar  dia  dapat
    bergembira dan merasa takut dengan adanya peringatan tersebut.
    Imanlah  yang  menggerakkan  dan  mengarahkan  manusia,  serta
    melahirkan  berbagai  kekuatan  yang  dahsyat  dalam  dirinya.
    Manusia tidak akan  memperoleh  kejayaan  tanpa  iman.  Karena
    sesungguhnya  iman  membuatnya  menjadi  makhluk  baru, dengan
    semangat yang baru, akal baru,  kehendak  baru,  dan  filsafat
    hidup  yang  juga  baru. Sebagaimana yang kita saksikan ketika
    para ahli sihir Fir'aun beriman kepada  Tuhan  nabi  Musa  dan
    Harun.  Mereka  menentang kesewenangan Fir'aun, sambil berkata
    kepadanya dengan penuh ketegasan dan kewibawaan:

       "... maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.
       Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada
       kehidupan di dunia ini saja... (Taha: 72)

    Kita juga dapat  melihat  para  sahabat  Rasulullah  saw  yang
    keimanan  mereka  telah memindahkan kehidupan Jahiliyah mereka
    kepada  kehidupan  Islam;  dari   penyembahan   berhala,   dan
    penggembalaan  kambing  kepada  pembinaan  umat  dan  menuntun
    manusia kepada petunjuk Allah SWT, serta  mengeluarkan  mereka
    dari kegelapan kepada cahaya.

    Selama  tiga  belas  tahun  di  Makkah  al-Mukarramah, seluruh
    perhatian dan kerja-kerja Nabi saw  --yang  berbentuk  tabligh
    dan  da'wah--  ditumpukan  kepada  pembinaan  generasi pertama
    berdasarkan keimanan.

    Pada  tahun-tahun  itu  belum  turun  penetapan  syariah  yang
    mengatur  kehidupan  masyarakat,  menetapkan hubungan keluarga
    dan hubungan sosial, serta menetapkan  sanksi  terhadap  orang
    yang   menyimpang  dari  undang-undang  tersebut.  Kerja  yang
    dilakukan oleh al-Qur'an dan  Rasulullah  saw  adalah  membina
    manusia  dan  generasi  sahabat  Rasulullah  saw, mendidik dan
    membentuk mereka, agar mereka dapat menjadi pendidik di  dunia
    ini setelah kepergian baginda Rasul.

    Dahulu,  rumah  Al-Arqam  bin  Abi  al-Arqam memainkan peranan
    untuk itu. Kitab suci Allah SWT  diturunkan  kepada  Rasul-Nya
    sedikit  demi  sedikit sesuai dengan kasus-kasus yang dihadapi
    pada saat itu; agar dia membacakannya  kepada  manusia  secara
    perlahan-lahan,  untuk  memantapkan keyakinan hati mereka, dan
    orang-orang yang beriman kepadanya. Nabi saw menjawab berbagai
    pertanyaan  orang  musyrik  pada  waktu  itu dengan mematahkan
    hujah-hujah mereka, sehingga hal  ini  sangat  besar  perannya
    dalam  membina  kelompok  orang-orang beriman, memperbaiki dan
    mengarahkan perjalanan hidup mereka. Allah SWT berfirman:

       "Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan
       berangsur-angsur agar kamu membacakannya
       perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya
       bagian demi bagian. (al-Isra,: 106)
      
       "Berkatalah orang-orang kafir: "Mengapa al-Qur'an itu
       tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja?"
       Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan
       Kami membacakannya kelompok demi kelompok. Tidaklah
       orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa)
       sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu
       suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya."
       (al-Furqan: 32-33)

    Tugas terpenting yang mesti kita lakukan pada hari ini apabila
    kita  hendak  melakukan  perbaikan  terhadap keadaan umat kita
    ialah melakukan permulaan yang tepat,  yaitu  membina  manusia
    dengan  pembinaan  yang  hakiki  dan  bukan hanya dalam bentuk
    luarnya  saja.  Kita  harus  membina  akal,  ruh,  tubuh,  dan
    perilakunya  secara  seimbang.  Kita  membina  akalnya  dengan
    pendidikan; membina ruhnya dengan ibadah;  membina  jasmaninya
    dengan  olahraga;  dan  membina perilakunya dengan sifat-sifat
    yang mulia. Kita dapat membina kemiliteran  melalui  disiplin;
    membina  kemasyarakatannya  melalui  kerja sama; membina dunia
    politiknya dengan penyadaran. Kita harus  mempersiapkan  agama
    dan  dunianya secara bersama-sama agar ia menjadi manusia yang
    baik,  dan  dapat  mempengaruhi  orang  untuk  berbuat   baik,
    sehingga  dia  terhindar  dari  kerugian di dunia dan akhirat;
    sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT:

       "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
       berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang
       beriman dan mengerjakan amal saleh dan
       nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan
       nasihat- menasihati supaya menetapi kesabaran."
       (al-'Ashr: 1-3)

    Usaha itu tidak dapat dilakukan dengan  baik  kecuali  melalui
    pandangan  yang menyeluruh terhadap wujud ini, dan juga dengan
    filsafat hidup yang jelas,  proyek  peradaban  yang  sempurna,
    yang  dipercayai  oleh  umat, sehingga ia mendidik anak lelaki
    dan perempuannya dengan penuh keyakinan, bekerja sesuai dengan
    hukum yang telah ditentukan dan berjalan pada jalur yang telah
    digariskan. Bagaimanapun, semua institusi yang  ada  di  dalam
    umat  (masjid  dan universitas, buku dan surat kabar, televisi
    dan radio) mesti melakukan  kerja  sama  yang  baik,  sehingga
    tidak  ada  satu  institusi yang naik sementara institusi yang
    lainnya tenggelam, atau ada satu perangkat yang  dibangun  dan
    pada  saat yang sama perangkat lainnya dihancurkan. Pernyataan
    di atas dibenarkan oleh ucapan penyair terdahulu:

       "Dapatkah sebuah bangunan diselesaikan; Apabila engkau
       membangunnya dan orang lain menghancurkannya?"

    Inilah 10 cara meneguhkan Iman

    10 Tips dan cara meneguhkan Iman

    Saat ini kaum muslimin sedang dihadapkan pada persoalan besar, diantaranya  syubhat, syahwat, penyimpangan faham keagamaan, perpecahan dan lain-lain. Cobaan-cobaan tersebut silih berganti menghempas, menggoyahkan dan menggerogoti iman. Tidak mustahil seorang muslim selanjutnya membelot, bahkan murtad dari keislamannya. Berikut ini kami akan menguraikan Sepuluh petunjuk yang bersumber dari Al-Qur'an dan Al-Hadits yang dapat dijadikan sandaran dalam memelihara keteguhan iman kita.

    1. Akrab dengan Al Qur'an

    Al Qur'an merupakan petunjuk utama untuk mencapai tsabat (keteguhan iman). Al Qur'an sebagai penghubung yang amat kokoh antara hamba dengan Rabbnya. Barangsiapa berpegang teguh dengan Al Qur'an, niscaya Allah akan memeliharanya, barangsiapa mengikuti Al Qur'an, niscaya Allah akan menyelamat-kannya dan barangsiapa menyeru kepada Al Qur'an, niscaya Allah akan menunjukinya ke jalan yang benar.

    Allah Azza wa Jalla telah menjelaskan bahwa diturunkannya Al-Qur'an secara berangsur-angsur adalah untuk meneguhkan hati para hamba-Nya, sebagaimana firman Allah tatkala membantah tuduhan kaum kuffar,

    "Orang-orang kafir berkata: Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja? Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil." (Al Furqan : 32)

    Diantara alasan mengapa Al Qur'an sebagai sumber utama untuk mencapai tsabat, karena Al Qur'an menanamkan keimanan dan mensucikan jiwa seseorang, diturunkan untuk menenteramkan hati manusia dan sebagai benteng bagi orang mukmin dalam menghadapi hempasan fitnah. Al Qur'an juga membekali muslim dengan konsepsi serta nilai yang dijamin kebenarannya, sehingga dia mampu menilai sesuatu dan menimbang sesuatu secara proporsial dan benar.

    2. Iltizam dengan Syari'at Islam

    Allah berfirman: "Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan nasehat yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan (hati mereka di atas kebenaran)." (An Nisa : 66)

    Jelas sekali, tidak mungkin kita mengharapkan orang-orang yang malas dan tidak melakukan amal shalih dapat memiliki keteguhan iman. Allah hanya akan menunjukkan kepada orang yang beriman dan mengamalkannya, jalan yang lurus. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para shahabat senantiasa melakukan amal shalih dan menjaganya secara terus-menerus. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: " Barangsiapa memelihara shalat dua belas raka'at (sunnat  rawatib), niscaya ia dijamin masuk surga ". (HR. At Tirmidzi 2/273)

    3. Mempelajari Kisah Para Nabi

    Tentang pentingnya mempelajari kisah para Nabi, Allah berfirman, "Dan Kami ceritakan kepadamu cerita para Rasul agar dengannya Kami teguhkan hatimu." (QS. Hud : 120)

    Mari kita renungkan kisah Nabiyullah Ibrahim AlaihisSalam tatkala dilemparkan ke dalam api. Ibnu Abbas berkata: Ucapan terakhir Ibrahim ketika akan dilemparkan ke dalam api adalah, " Cukuplah Allah sebagai penolongku, Dia adalah sebaik-baik pelindung". (Qs. Al Fath : 29)

    Seandainya Anda merenungi firman Allah di atas, tidakkah Anda merasakan adanya tsabat yang meresap ke dalam jiwa Anda? Dalam kisah Musa AlaihisSalam, Allah berfirman: "Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah para pengikut Musa: Sesung-guhnya kita akan benar-benar tersusul. Musa menjawab: Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Rabbku bersama-ku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (Qs. Asy Syu'ara : 61-62)

    Bila Anda bayangkan bahwa kisah tersebut terjadi di hadapan Anda, tidakkah Anda merasakan tsabat di dalam hati Anda?

    4. Berdoa

    Di antara sifat hamba-hamba Allah yang beriman adalah selalu memohon kepada-Nya agar diberi keteguhan iman, seperti doa yang tertulis dalam firman Allah: " Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami ". (Qs. Ali Imran : 250)

    Agar hati tetap teguh, maka Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam banyak memanjatkan doa berikut ini, " Wahai Dzat pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu." (HR. At Tirmidzi)

    5. Berdzikir kepada Allah

    Dzikir kepada Allah adalah amalan yang paling ampuh untuk mencapai tsabat. Karena pentingnya dzikir ini, Allah memadukan antara dzikir dengan jihad sebagaimana dalam firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, bila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan dzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya." (Qs. Al Anfal : 45)

    Dalam ayat tersebut Allah menjadikan dzikrullah sebagai amalan yang baik untuk mencapai tsabat dalam jihad. Nabiyullah Yusuf AS  pun memohon bantuan untuk mencapai tsabat dengan dzikrullah saat dirayu oleh seorang perempuan cantik yang mempunyai kedudukan tinggi. Demikianlah pengaruh dzikrullah dalam memberikan keteguhan iman kepada orang-orang beriman.

    6. Menempuh Jalan Lurus

    Allah berfirman: " Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti jalan-jalan (lain) sehingga menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya ". (Al An'am: 153)

    Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam mensinyalir bahwa umatnya bakal terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk Neraka kecuali hanya satu golongan yang selamat (HR. Ahmad, hasan).
    Dari sini kita mengetahui, tidak setiap orang yang mengaku muslim mesti berada di jalan yang benar. Rentang waktu 14 abad dari datangnya Islam cukup banyak membuat terkotak-kotaknya pemahaman keagamaan. Lalu, jalan manakah yang selamat dan benar itu? Dan, pemahaman siapakah yang mesti kita ikuti dalam praktek keberagamaan kita? Berdasarkan banyak keterangan ayat dan hadits , jalan yang benar dan selamat itu adalah jalan Allah dan Rasulnya. Sedangkan pemahaman agama yang autentik kebenarannya adalah pemahaman berdasarkan keterangan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. (HR. Tirmidzi, hasan).

    Itulah yang mesti kita ikuti, tidak penafsiran-penafsiran agama berdasarkan akal manusia yang tingkat kedalaman dan kecerdasannya majemuk dan terbatas. Tradisi pemahaman itu selanjutnya dirawat oleh para tabi'in dan para imam shalihin. Paham keagamaan inilah yang dalam terminologi (istilah) Islam selanjutnya dikenal dengan paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Atau sebagian menyebutnya dengan pemahaman para salafus shalih.

    Orang yang telah mengikuti paham Ahlus Sunnah wal Jamaah akan tegar dalam menghadapi berbagai keanekaragaman paham, sebab mereka telah yakin akan kebenaran yang diikutinya. Berbeda dengan orang yang berada di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah, mereka akan senantiasa bingung dan ragu. Berpindah dari suatu lingkungan sesat ke lingkungan bid'ah, dari filsafat ke ilmu kalam, dari mu'tazilah ke ahli tahrif, dari ahli ta'wil ke murji'ah, dari thariqat yang satu ke thariqat yang lain dan seterusnya. Di sinilah pentingnya kita berpegang teguh dengan manhaj (jalan) yang benar sehingga iman kita akan tetap kuat dalam situasi apapun.

    7. Berdakwah

    Jika tidak digerakkan, jiwa seseorang tentu akan rusak. Untuk menggerakkan jiwa maka perlu dicarikan medan yang tepat. Di antara medan pergerakan yang paling agung adalah berdakwah. Dan berdakwah merupakan tugas para rasul untuk membebaskan manusia dari adzab Allah. Maka tidak benar jika dikatakan, si A itu tidak ada perubahan. Jiwa manusia, bila tidak disibukkan oleh ketaatan maka dapat dipastikan akan disibukkan oleh kemaksiatan. Sebab, iman itu bisa bertambah dan berkurang. Jika seorang da'i menghadapi berbagai tantangan dari ahlul bathil dalam perjalanan dakwahnya, tetapi ia tetap terus berdakwah maka Allah akan semakin menambah dan mengokohkan keimanannya.
    Bagaimana perasaan kita seandainya Allah menciptakan kita sebagai benda mati, binatang, orang kafir, penyeru bid'ah, orang fasik, orang Islam yang tidak mau berdakwah atau da'i yang sesat? Mudah-mudahan kita berada dalam keyakinan yang benar yakni sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah yang sesungguhnya.

    8. Dekat dengan Ulama

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda: "Di antara manusia ada orang-orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejahatan." (HR. Ibnu Majah, no. 237, hasan)

    Senantiasa bergaul dengan ulama akan semakin menguatkan iman seseorang. Tercatat dalam sejarah bahwa berbagai fitnah telah terjadi dan menimpa kaum muslimin, lalu Allah meneguhkan iman kaum muslimin melalui ulama. Di antaranya seperti diutarakan Ali bin Al Madini Rahimahullah: " Di hari riddah (pemurtadan) Allah telah memuliakan dirinya ini dengan Abu Bakar dan di hari mihnah (ujian) dengan Imam Ahmad."

    Bila mengalami kegundahan dan problem yang dahsyat Ibnul Qayyim mendatangi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah untuk mendengarkan berbagai nasehatnya. Serta-merta kegundahannya pun hilang berganti dengan kelapangan dan keteguhan iman ( Al Wabilush Shaib, hal. 97).

    9. Memiliki Akhlak Pendukung Tsabat.

    Akhlak pendukung tsabat yang utama adalah sabar. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Salam: "Tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Al Bukhari dan Muslim)
    Tanpa kesabaran iman yang kita miliki akan mudah terombang-ambingkan oleh berbagai musibah dan ujian. Karena itu, sabar termasuk senjata utama mencapai tsabat.

    10. Merenungi Nikmatnya Surga

    Surga adalah tempat yang penuh dengan kenikmatan, kegembiraan dan suka-cita. Ke sanalah tujuan pengembaraan kaum muslimin. Orang yang meyakini adanya pahala dan Surga niscaya akan mudah menghadapi berbagai kesulitan. Mudah pula baginya untuk tetap tsabat dalam keteguhan dan kekuatan imannya.

    Dalam meneguhkan iman para sahabat, Rasulullah SAW sering mengingatkan mereka dengan kenikmatan Surga. Ketika melewati Yasir, istri dan anaknya Ammar yang sedang disiksa oleh kaum musyrikin beliau mengatakan: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, tempat kalian nanti adalah Surga." (HR. Al Hakim/III/383, hasan shahih)

    Demikianlah sedikit wejangan AkuCintaAllah.Com mengenai "10 cara meneguhkan Iman" Mudah-mudahan kita bisa merawat dan terus-menerus meneguhkan keimanan kita sehingga Allah menjadikan kita khusnul khatimah. Amin

    Istighfar dan Taubat adalah kunci Rizki dan keberkahan

    Istighfar Dan Taubat; Kunci rizqi Dan keberkahan dari Allah Ta'ala

    Mengapa harus bertaubat dan beristighfar?         

     Di antara hal yang menyibukkan hati kaum muslimin adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sebagian besar kaum muslimin memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Kemudian tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan hukum halal dan haram.


              Mereka itu lupa atau berpura-pura lupa bahwa Allah men-syari’atkan agama-Nya hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara kebahagiaan di akhirat saja. Padahal Allah mensyari’atkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia.

    Sebagaimana Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas Radhiallaahu anhu , ia berkata:          “Sesungguhnya do’a yang sering diucapkan Nabi adalah, “Wahai Tuhan Kami’ karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka”. (Shahihul Al-Bukhari,)

     Allah dan Rasul-Nya tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan dan keraguan dalam usaha mencari penghidupan. Tapi sebaliknya, sebab-sebab mendapat rizki telah diatur dan dijelaskan. Sekiranya umat ini mau memahami dan menyadarinya, niscaya Allah akan memudahkan mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.

    Sebab terpenting diturunkan Rizki

              Di antara sebab terpenting diturunkannya rizki adalah istighfar (memohon ampun) dan taubat kepada Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nuh yang berkata kepada kaumnya:
    “Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohon ampunlah kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12)

    Makna Taubat dan Istighfar

              Yang dimaksud istighfar dan taubat di sini bukan hanya sekedar diucap di lisan saja, tidak membekas di dalam hati sama sekali, bahkan tidak berpengaruh dalam perbuatan anggota badan. Tetapi yang dimaksud dengan istighfar di sini adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah “Meminta (ampun) dengan disertai ucapan dan perbuatan dan bukan sekedar lisan semata.”

              Sedangkan makna taubat sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ar-Raghib Al-Asfahani adalah meninggalkan dosa karena keburukannya, menyesali dosa yang telah dilakukan, berkeinginan kuat untuk tidak mengulanginya dan berusaha melakukan apa yang lebih baik (sebagai ganti). Jika keempat hal itu telah dipenuhi berarti syarat taubatnya telah sempurna.

              Begitu pula Imam An-Nawawi menjelaskan: “Para ulama berkata. ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga:
    1. Hendaknya ia harus menjauhi maksiat tersebut.
    2. Ia harus menyesali perbuatan (maksiat) nya.
    3. Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi.
    Jika salah satu syarat hilang, maka taubatnya tidak sah.

              Jika taubatnya berkaitan dengan hak manusia maka syaratnya ada empat, yaitu ketiga syarat di atas ditambah satu, yaitu hendaknya ia membebaskan diri (memenuhi) hak orang lain. Jika berupa harta benda maka ia harus mengembalikan, jika berupa had (hukuman) maka ia harus memberinya kesempatan untuk membalas atau meminta maaf kepadanya dan jika berupa ghibah (menggunjing), maka ia harus meminta maaf.

              Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (surat Nuh: 10-12) berkata: “Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya, niscaya Ia akan memperbanyak rizki kalian, Ia akan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, melimpahkan air susu, memperbanyak harta dan anak-anak untuk kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat macam-macam buah-buahan untuk kalian serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun untuk kalian.

              Imam Al-Qurtubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasannya ia berkata: “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya, Beristighfarlah kepada Allah! Yang lain lagi berkata kepadanya: “Do’akanlah (aku) kepada Allah, agar ia memberiku anak!!’ maka beliau mengatakan kepadanya, ‘Beristighfar kepada Allah! Dan yang lainnya lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula),’Beristighfarlah kepada Allah!.

              Kemudian di ayat yang lain Allah yang menceritakan tentang seruan Hud kepada kaumnya agar beristighfar:

    “Dan (Hud berkata),’Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadaNya, niscaya Dia kan menurunkan hujan yang sangat lebat atasmu dan Dia akan membawa kekuatan kepada kekuatanmu dan juga janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Hud: 52)

              Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia di atas menyatakan: “Kemudian Hud memerintahkan kaumnya untuk beristighfar sehingga dosa-dosa yang lalu dapat dihapuskan, kemudian memerintah-kan bertaubat untuk waktu yang mereka hadapi. Barangsiapa memiliki sifat seperti ini, niscaya Allah akan memudahkan rizkinya, melancarkan urusannya dan menjaga keadaanya.

              Masih dari surat Hud pada ayat ke-3, Allah swt. juga berfirman:
    “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya (jika kamu mengerjakan yang demikian (niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai pada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut akan ditimpa siksa hari kiamat.” (Hud: 3).

              Imam Al-Qurthubi mengatakan:”Inilah buah istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberikan kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Allah tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.”
    Rasulullah SAW bersabda:

     “Barang siapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberikan rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” ( Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i Ibnu Majah )

              Dalam hadist yang mulia ini, Nabi menggambarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Yang Maha Esa, Yang memiliki kekuatan akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan tidak pernah diharapkan serta tidak pernah terbersit dalam hati.

              Karena itu, kepada orang yang mengharapkan rizki hendaklah ia bersegera untuk memperbanyak istighfar, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dan hendaklah kita selalu waspada! dari melakukan istighfar hanya sebatas dengan lisan tanpa perbuatan. Sebab ia adalah pekerjaan para pendusta. Walahu a’lam bisawab

    Demikian uraian AkuCintaAllah.Com mengenai Penyebab dan kunci Rizki dan keberkahan dari Allah, yaitu adalah taubat dan Istighfar. Yuk kita galakkan beristighfar dan bertaubat dalam setiap langkah dan aktifitas kehidupan kita sehari-hari supaya dipermudah rizkinya serta mendapat keberkahan dari-Nya. Semoga bermanfaat.

    Nasehat tenang kematian


    NASEHAT TENTANG KEMATIAN

    Ada dua macam sang penasehat, yang bersuara dan tidak bersuara. Kedua nasehat tersebut tidak henti-hentinya memberi nasehat kepada manusia. Manusia selalu membutuhkan macam-macam nasehat yang selalu mengajak manusia ke arah ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab hati ini kadang membatu, keruh, karatan, keras,dan dibarengi dengan pikiran yang lalai akan apa itu tujuan hidup yang sesungguhnya, dunia yang terus menerus menipu hati dan pikiran kita, nafsu-pun menyuruh kita untuk berbuat kemaksiatan dan keburukan-keburukan akhlak lainnya dan setan-pun melulu bersikukuh untuk menyesatkan Anak Adam.

    Nah,dari sinilah kita sangat dan harus memerlukan dari pada nasehat itu sendiri yang bisa mengingatkan dan mengajak kita untuk selalu berbuat kebaikan  (Amal Ma’ruf Nahi Mungkar).

    Kedua nasehat tersebut adalah AL QUR’AN dan KEMATIAN, pagi dan petang Al-Qur’an selalu memperdengarkan ayat-ayat Allah Ta’ala. Al-Qur’an mengingatkan umat manusia dan menyadarkan mereka yang lalai akan tujuan hidupnya. Pun menambah keimanan orang-orang Mukmin, ”Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an orang yang takut kepada ancamanku”. (QS.QAF:45).

    Kematian Adalah Penasehat Yang Tidak Bersuara.

    Kematian senantiasa menyertai kita pagi dan petang, dalam keadaan senang atau bahagia ataupun sebaliknya. Kematian adalah nasehat dan penasehat yang paling utama dan berharga. Tetapi terkadang manusia tuli dan buta akan nasehat yang satu ini. Mereka selalu rutin mengikuti acara prosesi pemakaman, tetapi hati dan matanya sudah terlanjur keras, buta dan tuli, sehingga peristiwa apa yang  telah ia saksikan sama sekali tidak membekas di hati dan benak pikirannya. Mereka sudah asyik disibukkan oleh urusan-urusan dunia, mengejar kesenangan sesaat yang menipu. Mereka lupa bahwa ada satu perkara besar yang selalu tak lelah mengintai dan mengancam jiwanya (Kematian), mereka lupa akan nasehat yang satu ini.

     Menurut anda adakah nasehat yang lebih agung lagi dari pada nasehat kematian ini? penulis mengira anda akan menjawab TIDAK ADA! Apabila di hadapan anda ada sosok orang yang hidup, yang wajahnya berseri-seri, lisannya fasih bertutur kata dan memiliki keinginan akan kenikmatan dunia, akan tetapi wajah yang berseri-seri tadi memucat pasi, tubuh yang tadi terlihat segar bugar tiba-tiba berubah menjadi kaku tak bergerak, lisan yang tadi fasih berbicara tiba-tiba bungkam seribu bahasa dan sosok manusia yang sedap dipandang, ternyata sudah dikebumikan ke liang kubur.

    Kematian Adalah Hakekat GAIB Yang Benar-Benar nyata 

    Ada Kematian dikatakan benar-benar ada karena disaksikan oleh mata kepala manusia itu sendiri. Dan disebut gaib karena tidak ingin diingat-ingat oleh manusia itu sendiri. Kalau saja manusia itu suka mengingat akan kematian, pastilah ia akan lebih taqwa dan berhati-hati dalam manjalani keseharian kehidupannya.Rasulullah SAW pernah bersabda,”Umatku yang paling cerdas adalah mereka yang suka mengingat Kematian”.

    Kematian Lebih Dekat Dari kejapan Mata

    Apakah anda mengira bahwa kematian masih jauh di sana? Apakah anda juga mengira bahwa kematian datang di hari tua saja? Sebagai seorang mukmin, tentunya anda menjawab TIDAK! Kejadian Kiamat itu terjadi seperti kejapan mata saja atau bahkan lebih cepat lagi {An-Nahl:77}. Kiamat yang dimaksudkan ayat di atas  adalah yang berlaku umum dan tiap-tiap orang akan menghadapinya. Jika kematian datang, berarti ia tengah menghadapi Kiamatnya. Kematian ibarat kejapan mata, hanyalah garis tipis yang membedakan antara kehidupan dan kematian.

     Nah, sudahkah kita bersiap diri untuk menyambut kematian tersebut? Sudah yakinkah anda dengan segala amal ibadah anda selama ini bisa menolong anda di hadapan Allah kelak? Sudahkah anda pantas disebut sebagai mukmin sejati dengan segala amal ubudiah anda selama ini? sudahkah anda beristiqamah di dalam menjalani perintah dan larangan Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan?

    Dari sekian banyak soal intropeksi diri tadi, diri kitalah yang berhak dan mampu menjawabnya dengan kondisi ruhaniah kita masing-masing.Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki dan menambah tabungan amal ibadah kita. Allah akan selalu menerima setiap niatan dan amal kebajikan kita, dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepadanya. Jangan merasa sudah terlanjur banyak dosa dan noda, sehingga anda putus asa dari rahmat Allah Ta’ala.

    Selama nyawa masih di badan, segala bentuk kata taubat akan selalu diterima oleh Allah Ta’ala. Maka dari itu, mari kita bersama-sama membersihkan hati dan diri kita dari segala kotoran dosa dan maksiat yang menyebabkan kita semakin jauh dari NUR Allah Ta’ala. Ulama salaf ”Waqi’” bertutur pesan kepada muridnya Imam Syafi’i “Jauhilah maksiat, karena sesungguhnya ilmu Allah itu adalah NUR atau cahaya yang suci. Dan cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada ahli maksiat”. Orang yang gemar melakukan dosa dan maksiat tidak akan mendapat NUR Allah, kalaupun dapat pasti tidak membawa Berkah bagi kemaslahatan umat. Bertolak dari sinilah, kita sebagai barisan penuntut Nur atau ilmu Allah,harus bergegas membersihkan diri dari segala kubangan dosa dan maksiat kepada Allah. Shalat jama’ah, puasa sunah dan sedekah-nya harus kita tingkatkan lagi demi meraih mardhotillah (Ridho Allah) Wallahu A’lam…..

    Demikian pembicaraan kita dalam tema "Nasehat tentang kematian". semaga bermanfaat. Salam AkuCintaAllah.Com

    Sedekah Ikhlas Lebih Dahsyat




    "Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat."

    Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
    Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

    Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
    Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
    Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
    Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
    Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
    "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.

    Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

    Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
    Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
    Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

    Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

    Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

    Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

    Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.
    Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

    Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

    Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

    Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.
    Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

    Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
    "Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.

    Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.
    Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

    Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
    Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

    Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

    Bagaimana memaknai Rizki

    Bagaimana memaknai Rizki dalam Islam?

    Rejeki Tak Selalu Berwujud Materi

    “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
    diusahakannya besok” (Luqman : 34)

    PENGERTIAN RIZKI

    AkuCIntaAllah.Com -- Di dalam Lisanul ‘arab, Ibnu Al Manshur menjelaskan, Ar Rizqu adalah sebuah kata yang sudah dimegerti maknanya, dan terdiri dari dua macam; Pertama, yang bersifat dhahir, seperti barang kebutuhan pokok.

    Kedua, yang bersifat Bathin bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan
    ilmu (Lisanul ‘Arab 10/115)

    Mengacu pada makna diatas maka hakikat rizki tidak hanya berwujud harta atau materi semata seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi rizki bermakna lebih luas dari itu. Semua kenikmatan dan mashlahat yang dinikmati seorang hamba terhitung sebagai rejeki. Hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaan lalu lintas, atau bebas dari terjangkit panyakit berat, semua ini
    merupakan contoh kongkret dari rizki. Bayangkan bila kejadian tersebut menimpa kita, maka bisa dipastikan akan menguras harta yang kita miliki.

    Imam Nawawi telah mengisyaratkan makna tersebut dalam Syarh Shahih Muslim (16/141)

    Porsi rizki masing-masing manusia sudah diatur dan ditetapkan oleh Alloh, Dzat yang Maha memberi Rizki. Hal ini disinyalir dalam sebuah hadits yang panjang;

    “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya,......
    Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya,...”(Riwayat Muslim)

    Kendati rizki telah ditetapkan Alloh akan tetapi Allah tidak menjelaskannya dengan detail. Tidak ada seorang manusiapun yang mengetahui dengan pasti rizki yang akan ia peroleh setiap harinya, sebagaimana tersebut dalam ayat di atas.

    SPIRIT TEENTANG RIZKI DARI AL QUR’AN

    Islam membenci seorang yang menganggur dan bermalas-malasan dalam mengais rizki, meskipun dengan alasan untuk mengkonsentrasikan diri dalam beribadah kepada Alloh . Jadi berusaha merupakan suatu keharusan. Tidak ada kependetaan dan kerahiban dalam Islam. Seorang muslim tidak
    selayaknya bergantung pada orang lain, menunggu belas kasihan dari orang lain. Renungkanlah firman Alloh :

    “Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al Jumu’ah :10)

    Imam Al Qurthubi berkata;”berpencarlah kalian dibumi untuk berdagang dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian, serta untuk mencari sebagian dari rizki Alloh ”(Al Jami’Li Ahkamil Qur’an 18/105)

    “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya” (Al Mulk:15)

    Imam Ibnu Katsir bekata; “Menyebarlah kemanapun kalian inginkan di penjuru-penjurunya, dan berkelilingkan disudut-sudut, tepian dan wilayahwilayahnya untuk menjalankan usaha dan perniagaan” (Tafsir Qur’anul Adzim 4/105)

    RIZKI HARUS HALAL

    Islam mengharuskan ummartnya untuk mencari riszki dengan jalan yang halal dan baik. Rasulullah J telah bersabda:

    “Wahai manusia, bertaqwalah engkau kepada Allah, pakailah cara yang baik dalam mencari rizki. Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah mendapatkan seluruh (jatah) rizkinya, meskipun tertunda darinya.Bertaqwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari rizki”(Riwayat Al Bukhari)

    Rasulullah SAW juga mengigatkan ummatnya hendaknya berhati-hati dari fitnah harta. Jangan meremehkan pentingnya rizki yang halal, dan harus selektif dalam mencari rizki.

    “Akan datang pada suatu masa pada ummat manusia, mereka tidak lagi perduli bagaimana cara mereka mendapatkan harta. Apakah dengan cara yang halal ataukan dengan cara yang haram” (Riwayat Al Bukhari)

    BERKAH ITU PENTING !

    Berkah atau barokah yang maknanya adalah menetap. Az Zujjaj mengartikan berkah, sebagaimana yang dikutip Imam Al Quthubi dalam tafsirnya, dengan limpahan pada setiap hal yang mengandung kebaikan (Jami’ Li Ahkamil Qur’an 13/1) Kata ini dimaksudkan pula kepada makna pertambahan dengan tetap terpeliharanya dzat aslinya.

    Namun yang mesti diingat, pengertian berkah ini tidak selalu identik dengan limpahan materi yang dimiliki, tetapi juga bisa menyertai harta yang sedikit. Hal itu tercermin pada diri yang merasa berkecukupan untuk memenuhi kebutuhan, meskipun income yang didapatkan jauh dari kata cukup.
    Hakim bin Hizam , meriwayatkan bahwa Rasulullah J bersabda kepadanya:
    “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu begitu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mengambilnya dengan kesederhanaan jiwa, niscaya akan diberkahi.

    barangsiapa yang mengambilnya dengan keserakahan jiwa, niscaya tidak akan diberkahi, layaknya orang yang makan namun tidak pernah merasa kenyang” (Riwayat Al Bukhari)

    Al Hafidz Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits diatas berkata; “Mayoritas manusia tidak memahami keberadaan berkah. Kecuali pada harta yang makin bertambah banyak. Maka Nabi J menjelaskan dengan permisalan tersebut, bahwa berkah merupakan salah satu makhluk Allah dan membawakan
    permisalan dengan sesuatu yang sudah akrab dengan manusia” (Fathul Bari’3/337)

    Dari sini kita bisa mengetahui, bahwa , tata cara yang halal dalam mencari rizki tidak hanya mendatangkan rizki yang halallan thayiban, tetapi juga akan berpengaruh pada insan-insan masa depan, yaitu anak-anak yang berjiwa suci lagi berkepribadian luhur, lantaran mendapatkan suplai gizi dari makanan yang halal. Selain itu juga bisa menghadirkan karunia lain, yang tidak bisa terpantau oleh indera ataupun dihitung dengan materi, yaitu berkah.

    AGAR HARTA MENJADI BERKAH

    Pertama; Syukur.

    Kenikamatan yang didapatkan seseorang pada setiap saat, tidak terhitung jumlahnya. Termasuk diantaranya harta benda. Kenikmatan itu menuntut seseorang untuk memanifestasikan syukur kepada sang Khalik yang telah melimpahkan rizki. Rasa syukur dan terima kasih serta pujian kepada Alloh ,
    atas nikmat itu, merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan berkah dan tambahan pada harta yang dimiliki.

    Ibnul Qoyyim berkata; “ Alloh menjadikan sikap bersyukur sebagai salah satu sebab bertambahnya rizki, pemeliharaan dan penjagaan atas nikmat-Nya. (pada orang yang bersyukur, demikian ini merupakan) tangga bagi orang yang bersyukur menuju Dzat yang disyukuri. Bahkan hal itu menempatkannya menjadi hal yang disyukuri” (Madarijjus salikin 2/252)

    Syukur tidak hanya cukup dengan ucapan lisan saja, akan tetapi dengan selalu melakukan perbuatan baik dan amal shalih dan ibadah merupakan bentuk dari syukur. Alloh berfirman:

    "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim : 7)

    Imam Al Qurthubi berkata; “Ayat ini merupakan dalil yang tegas bahwa bersyukur menjadi faktor yang akan menambah kenikmatan dari Alloh ” (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 9/353)

    Kedua; Shadaqah

    Sangat banyak ayat dan hadits yang menjelaskan bahwa shadaqah dan infaq merupakan salah satu penunjang yang dapat mendatangkan rizki dan meraih berkah. Alloh berfirman;

    “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah”(Al Baqarah : 276)
    Maksudnya Alloh akan meningkatkannya di dunia ini dengan berkah dan memperbanyak pahalanya dengan melipat gandakannya di akhirat. (Al Jami’ Li Ahkamil Qur’an 14/41)

    Rasulullah SAW bersabda: “Berinfaqlah, janganlah engkau menahannya, akibatnya Allah memutus
    (berkah) darimu” (Riwayat Al Bukhari)

    Al Hafidz Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits diatas berkata; “Larangan dari menahan harta yang digunakan untuk bersedekah, karena takut habis. Sikap ini merupakan faktor yang paling mempengaruhi terhentinya keberkahan. Karena Alloh membalas pahala infaq tanpa ada batas hitungannya” (Fathul Bari’ 3/301)

    Ketiga; Silaturrahim

    Usaha lain yang bisa mendukung bertambahnya rizki dan bisa mendatangkan keberkahan pada harta adalah menyambung silaturrahim. Rasulullah SAW telah bersabda; “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaknya ia menyambung tali silaturrahim” (Riwayat Al Bukhari)

    Hadits diatas menunjukan manfaat dari menyambung silaturrahim, yaitu akan mendapat curahan kebaikan dari Alloh yang berbentuk rizki, dan terhindar dari keburukan, dan diraihnya keberkahan.
    Al Hafidz Ibnu Hajar berkata; Para ‘ulama mengatakan, yang dimaksud dilapangkan rizkinya adalah adanya keberkahan padanya. Sebab menyambung tali silaturrahim adalah sedekah, dan sedekah akan mengembangkan harta, sehingga makin bertambah dan bersih” (Fathul Bari’ 4/303).

    Dalam hidup ini, ada dua jenis rezeki yang diberikan Allah kepada manusia: rizqi kasbi (bersifat usaha) dan rizqi wahbi (hadiah). Rizqi kasbi diperoleh lewat jalur usaha dan kerja. Terutama jika menyangkut kekayaan dunia, rezeki jenis ini tidak mensyaratkan kualitas keimanan penerimanya. Tidak jarang kita jumpai orang yang ingkar kepada Allah tetapi hidupnya sukses.

    Selain sebagai hasil kerja, karena rizqi kasbi memang berasal dari sifat rahman atau pemberian Allah. Rumusnya, siapa mau berusaha, dia akan dapat. Karena itu, rezeki berupa kekayaan dunia tidak selalu mencerminkan cinta Allah kepada pemiliknya. Juga karena kekayaan harta memang tidak bernilai di hadapan Allah. “Sekiranya bobot kenikmatan dunia di sisi Allah seberat sayap nyamuk, maka Dia tidak akan memberi minum kepada orang kafir meski hanya seteguk air” (HR Tirmidzi).

    Lain dari itu adalah rizqi wahbi. Rezeki ini datangnya di luar prediksi pikiran manusia. Kadang malah tidak memerlukan jerih payah. Pegawai rendahan bisa saja memiliki harta melimpah. Kiai desa yang miskin papa mendadak mendapatkan biaya haji dari pemerintah. Itulah rizqi wahbi. Perolehannya lebih karena sifat rahim atau kasih sayang Allah.

    Itulah kenapa yang paling berpeluang mendapatkan rizqi wahbi adalah hamba yang bertakwa. Kesuksesan orang bertakwa itu lebih ditentukan oleh kualitas keimanannya daripada profesinya. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya” (QS At-Thalaq: 2-3).

    Seolah mengonfirmasi ayat di atas, Rasulullah bahkan menyatakan, istighfar secara rutin dapat mengundang rezeki dari arah yang tidak kita duga. “Barangsiapa melanggengkan istighfar, Allah akan melapangkan kegalauannya, memberikan solusi atas kerumitannya, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak dia sangka sebelumnya” (HR Ibnu Majah).

    Tetapi, sekali lagi, rezeki bukan melulu harta. Hidup dijauhkan dari kemaksiatan adalah rezeki. Juga gairah untuk beribadah. Kemudahan menyerap ilmu jelas rezeki. Kesempatan beraktualisasi diri juga rezeki. Dan termasuk rezeki adalah ketika kita dihidupkan dalam lingkungan yang baik. Apalagi memiliki keluarga sakinah. Banyak orang stress akibat ditimpa problem keluarga. Seperti diingatkan Allah, “Wahai orang-orang beriman, sungguh di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka” (QS At-Taghabun: 14).

    Ayat di atas jelas menegaskan bahwa istri dan anak potensial membuat hidup manusia merana. Harta yang melimpah tidak mampu menghapus duka ketika badai rumah tangga melanda. Begitu juga ketika penyakit mendera. Hidup kehilangan gairah. Berpenampilan serba mewah tetapi hati selalu berselimut duka.

    Mari meluruskan cara pandang. Alangkah meruah rezeki yang telah kita terima. Limpahan rezeki materi itu memang wajib disyukuri. Tetapi sungguh naif ketika bermacam rezeki nonmateri justru kita ingkari. Hanya kepada Allah, senantiasa kita langitkan doa agar diberikan limpahan rezeki berupa harta yang halal, pasangan yang baik, anak-anak yang berbakti, rumah atau lingkungan yang nyaman, dan kehidupan yang bertabur berkah.

    Demikian sedikit sharing AkuCintaAllah.Com mengenai "Bagaimana memaknai Rizki" dalam Islam. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang selalu berusaha dan mendapatkan rizki yang berkah bagi keluarga umat dan bermanfaat bagi dunia akhirat. Amin.

    Kekuatan Amal Berjamaah

    Kekuatan Amal Berjamaah 

    Bismillahirrahmaanirrahiim

    Semoga Allah menggolongkan kita semua menjadi orang-orang yang selalu sadarbahwa segala-galanya adalah milik Allah, diri kita milik Allah apapun yangkita inginkan pasti milik Allah. Sehingga tidak ada yang dituju selain Allah.
    Dialah Allah yang Maha Agung, termasuk pertemuan ini tidak ada yang ditujukecuali semoga kita bisa semakin mengenal keagungan Allah dan semakinmengenal cara agar bisa semakin mendekatkan diri kepada Allah.

    Saudara-saudaraku sekalian...
    Allah mempunyai nama dalam Asmaul Husna Al Jami', Allah Maha Menghimpun.Dalam bahasa Arab apabila ada huruf Arab ja-min-'ain itu artinya menghimpun.Sebaik-baiknya perhimpunan merujuk kepada amalan mesjid. "Hanyalah orang-orang yang memakmurkan mesjid Allah, yakin kepada Allah, yakin kepada hari
    akhir, menegakkan sholat, membayar zakat dan tidak pernah gentar selainkepada Allah mereka itulah yang diharapkan mendapat petunjuk"

    Sekarang banyak sekali perhimpunan di Indonesia, tapi apakah perhimpunan iniyang dihimpun Allah dalam kebaikan atau perhimpunan dalam kebathilan. 4(Empat) amalan perhimpunan mesjid yang diupayakan berhimpun dimanapun lebihdari 1 orang amalkan amalan ini karena inilah amalan dirumah Allah yaitu :

    1. Amalan mesjid perhimpunan itu majlis dzikir
    Sepertinya dimanapun kita berhimpun haruslah menjadi majlis dzikir. Mesjid,
    sholat, dzikir. Dzikir, baca qur'an, wirid itu semua mengingat Allah.
    Tidaklah berhimpun orang dengan berdzikir mengingat Allah kecuali rahmat
    Allah akan datang. Maka perhimpunan apapun harus niatnya untuk Allah karena
    Allah membela agama Allah ini menjadi kebaikan. Harusnya rumah itu menjadi
    majlis dzikir. Jadikan semuanya menjadi aspek dzikir, Insya Allah aman itu
    rumah. Rumah tangga yang begitu banyak ingat kepada Allah, beli barang yang
    disukai Allah akan membuat hati ini tentram.

    2. Amalan mesjid adalah taklim
    Menuntut ilmu dan menyampaikan ilmu. Jadi apabila amalan mesjid ini dibawa
    kerumah, kekantor akan barokah. Apa sebabnya? karena nuansanya tawasaubil
    haqqi wa tawasau bissabr (saling berpesan dengan kebenaran dan saling
    berpesan dengan kesabaran). Ilmu bisa membuat hati jadi ringan. Maka pastikan
    majlis sekecil apapun selain ingat dan niat kepada Allah ilmu kuncinya.
    Pokoknya pertemuan tidak menjadi ilmu rugi. Tiap hari tidak nambah ilmu rugi.
    Sebaiknya ketemu orang jadi ilmu. Kalau saudara bekerja hanya ingin cari
    uang, garong juga kerjanya cari uang hanya beda cara. Kalau saudara bekerja
    hanya ingin cari makan, domba juga kerjanya cari makan. Kalau saudara bekerja
    hanya ingin mencari gaji, bagaimana kalau mati sebelum gajian?

    Kita bekerja mencari Allah. Kalau kita bekerja, jualan, berumah tangga karena
    Allah yang dicari maka Allah-lah yang punya apapun yang kita inginkan. Setiap
    kali punya uang belikan buku, itu semua incestasi. Tidak apa-apa rumah kita
    tidak bagus barang-barangnya yang penting bagus ilmunya. Maka mulai saat ini
    saya berharap jamaah yang hadir kalau punya uang penuhi
    :
    1. hak keluarga
    2. hak ibadah
    3. hak kesehatan
    4. ilmu
    baru selebihnya beli barang-barang yang kiranya melengkapi.

    3. Dakwah
    Setiap berhimpun harus jadi dakwah. Mesjid itu fungsinya dakwah walau 1 ayat,
    sampaikan! Pendakwah yang baik alat ukurnya bukan orang lain jadi baik,
    pendakwah yang baik adalah orang dengan dakwahnya dirinya makin baik. Saudara
    berkumpul disini dan dapat ilmu itu adalah kemurahan Allah kepada saudara.
    Mungkin buah sedekah saudara kepada seseorang, mungkin buah doa orang tua
    kepada saudara, mungkin munajat anak-anak kepada orang tuanya, jadi saja ilmu
    itu sampai. Dakwah harus jadi program di perusahaan kita, dirumah tangga kita
    dan dimanapun.. Rugilah hidup cuma sekali tapi tidak menjadi contoh kebaikan.
    Usahakan sekuat-kuatnya bila orang melihat diri kita pribadi maupun kelompok,
    orang melihat keindahan Islam.

    4. Hikmat/Melayani
    Inilah sesungguhnya rahasia kesuksesan sebuah majlis yang barokah. Dimana
    setiap berkumpul selain membuat ingat kepada Allah, terus berkembang
    kemampuannya dengan ilmu, menebarkan dakwahnya dengan contoh-contoh kebaikan
    dan yg tidak kalah pentingnya dia melayani yang ada disekitarnya. Sepatutnya
    jamaah mesjid itu seperti itu. Harusnya rumah tangga kita atau kelompok kita
    adalah yang ingin melayani umat. Bila kita sebagai sales biasanya bila mau
    keluar rumah berapa target yang harus didapat, berapa order yang harus masuk,
    berapa barang yang harus saya jual, wah itu cenderung stress. Kalau kita
    sebagai sales, tiap hari yang dikatakan berapa banyak orang yang berbahagia
    dengan kedatangan kita, berapa banyak orang yang bisa saya tolong sepanjang
    hari ini, berapa banyak orang yang bisa saya senangkan sepanjang hari ini.
    Pikirannya adalah hikmat ke masyarakat.

    Apakah orang lain tidak berterima kasih kita rugi, apakah kita tidak diberi
    insentif kita rugi? Yang rugi itu tidak menolong orang lain. Rezeki itu tidak
    harus satu jalur, memangnya rejeki itu kita yang ngatur? Suka-suka Allah.

    Ujian adalah cara Allah mendidik kita. Jadi setiap kali kita
    bermajlis/bertemu dalam skala apapun harus ada orang yang terlayani oleh
    kita. Sekecil apapun layani. Makin melayani makin dicintai.

    Nah saudara-saudara sekalian....
    Ayo cari uang yang banyak supaya makin banyak kita nolong orang, nyari ilmu
    yang banyak supaya banyak ngajarin orang, latihan bela diri yang baik supaya
    nanti kalau ada apa-apa bisa nolongin orang. Teruskan kembangkan semua
    potensi kita nafkahkan di jalan Allah. Nggak usah rewel nggak usah banyak
    omong, Allah lebih tahu kebutuhan kita dibanding kita sendiri. Indah hidup
    ini bila mengingat Allah, sayang bila hidup ini dirusak hanya karena angkara
    murka. Oleh karena itu 4 (empat) amalan ini akan menjadi amalan mesjid kita
    bawa kerumah kita sehingga bisa jadi seperti rumah Allah, kita bawa ke
    perusahaan kita supaya perusahaan kita seperti perusahaan milik Allah. Insya
    Allah kalau negara kita seperti ini, barokah..!!

    Jangan Takut Miskin!

    Jangan Takut Miskin! Karena yang takut miskin menjadi Miskin Hakiki.

    Dalam era Globalisasi 2013 ini banyak kita temukan manusia yang hidup dipenuhi dengan rasa kegelisahan berkepanjangan, atau bahasa kerennya "GALAU". Galau kenapa? Galau karena takut miskin, selain galau karena masalah pasangan. karena dizaman yang serba modern ini Materi dijadikan standard dan tolaak ukur kehidupan manusia, sehingga kegersangan hatinya semakin dalam.

     Inilah fenomena nyata yang membuktikan betapa faham materialisme telah mendominasi mayoritas penduduk planet bumi. Kebanyakan orang saat ini jauh lebih takut akan kehilangan harta daripada kehilangan iman dan keyakinannya akan Allah Sang Pencipta jagat raya. Banyak orang telah menjadikan kesuksesan dalam kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kita bahwa jika dunia telah menjadi fokus perhatian utama, maka hidup seseorang bakal berantakan dan kemiskinan bakal menghantui dirinya terus-menerus.


    Jadikanlah Allah sebagai sandaran kehidupan anda! bukan materi dan harta.

    “Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)
    Dan sebaliknya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan bahwa hanya orang yang niat utamanya ialah kehidupan akhirat, maka hidupnya bakal berada dalam penataan yang rapih dan hidupnya akan dihiasi dengan kekayaan hakiki, yakni kekayaan hati. Bahkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjamin orang tersebut bakal memperoleh dunia dengan jalan dunia yang datang kepada dirnya secara tunduk bahkan hina, bukan sebaliknya, ia yang harus mengejar dunia dengan hina sehingga merendahkan martabat diri.

    “Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).” (HR Ibnu Majah 4095)

    Apa yang dapat kita simpulkan dari hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam di atas? Kesimpulannya ialah jika seorang hamba hidup dengan senantiasa sadar dan yakin bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki sesungguhnya dan bahwa tugasnya sebagai orang beriman ialah terus-menerus mengokohkan keyakinan akan hidup yang sesungguhnya ialah di kampung akhirat nan kekal, bukan di negeri dunia nan fana ini, maka dengan sendirinya Allah-pun akan membalas keyakinannya yang mulia dan benar itu dengan balasan yang selayaknya sebagaimana Allah sendiri janjikan di dalam KitabNya:

    ”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl ayat 97)

    Barangsiapa ber’amal sholeh, maka Allah jamin kehidupannya bakal baik di dunia dan Allah bakal balas dengan yang jauh lebih baik dari ’amal sholehnya di akhirat kelak. Namun, saudaraku, itu semua dengan syarat yang sangat fundamental, yaitu ”dalam keadaan beriman.” Dan iman yang paling pokok ialah ber-tauhid. Termasuk di dalamnya ialah hanya bergantung kepada Allah Yang Maha Ahad (Esa), tidak bergantung kepada apapun atau siapapun selain Allah.

    Obat agar dijauhkan dari Kemiskinan

    Oleh karenanya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memberikan kabar gembira kepada setiap muwahhid (ahli tauhid). Bahwa hidup mereka bakal dijauhkan dari kemiskinan. Dan untuk memperoleh jaminan tersebut ternyata cukup dengan setiap kali pulang ke rumah membaca ayat pertama surah Al-Ikhlas sebelum masuk ke dalam rumah. Tentunya itu semua dilakukan bukan sekedar sebagai mantera berupa komat-kamit di bibir belaka. Namun ia mestilah diiringi dengan keyakinan penuh akan makna dari ucapan kalimat tersebut: “Qul huw-Allahu Ahad” (Katakanlah: Allah itu Maha Esa). Artinya, ucapkanlah sambil meyakini sedalam mungkin di dalam hati bahwa tidak ada tempat selain Allah untuk memohon dan mengharapkan datangnya rezeki berkah yang bakal mencukupi hidup kita plus hidup anak-istri plus biaya kita untuk beribadah, ber’amal, berda’wah dan berjihad di jalan Allah Ta’aala.

    Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca “Qul huw-Allahu Ahad” (surah Al-Iklash ayat pertama) ketika masuk ke dalam rumahnya, maka kefakiran (kemiskinan) bakal tertolak dari penghuni rumah tersebut dan kedua tetangganya.” (HR Thabrani)

    ”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia

    "Ya Allah, jauhkanlah hamba dari kefakiran hati dan harga, sesungguhnya engkaulah Maha Kaya"
     
    Support : Privacy Policy | Term Condition | Iklan
    Copyright © 2011. Aku Cinta Allah Dot Com - All Rights Reserved
    Thanks to Mas Colis | kontak admin|