Headlines News :

    Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

    Bakti Anak Sepanjang Masa


    Aku Cinta Allah.com--------Setelah beranjak dewasa kebanyakan orang sibuk dengan urusan dunianya, khususnya mereka yang menjadi pengusaha ataupun karyawan di sebuah perusahaan. Pekerjaan yang tak kunjung selesai  hingga larut malam, rapat di berbagai tempat, hingga pekerjaan yang mengharuskan pergi ke luar kota atau bahkan keluar negeri.

    Sehingga lupa orang tua yang membesarkannya tidak lagi terurus, dan mudahnya mengambil jalan pintas mencarikan pembantu khusus atau menaruh mereka dipanti jompo dengan alasan agar masa tua mereka tenang dan tidak mengganggu kehidupan.

    Sungguh kehidupan seperti ini bukan hanya tayangan televisi belaka, ini kehidupan nyata dan banyak sekali dijumpai di tengah kehidupan masyarakat. Mereka yang tua tersingkirkan karena dianggap mengganggu kehidupan. Padahal, orang tua lah yang telah membuat masa depan kita menjadi lebih baik, mendidik kita tanpa rasa lelah, dan selalu ada di saat senang maupun duka.

    Hanya anak durhaka yang memperlakukan orang tuanya seperti itu. Dan mereka termasuk orang-orang yang merugi, sebagaimana Rasulullah saw bersabda : “ Rugilah dia, rugilah dia, rugilah dia.” Ada yang bertanya, “ Siapakah orang itu, wahai Rasulullah? ” Rasul menjawab : “ Orang yang sempat bertemu dengan kedua orang tuanya atau salah satunya dalam usia lanjut, Tetapi dia tidak masuk surge karena tidak berbakti kepadanya.” (HR.MUSLIM).

    Ketahuilah, sampai kapan pun kasih sayang orang tua tak akan pernah bisa tergantikan dengan sesuatu apapun. Sekali pun materi setinggi gunung, kemewahan seluas samudera, tetap saja yang mereka inginkan melihat anaknya bahagia bahkan tanpa meminta balas jasa.

    Bakti seorang anak terhadap orang tua pun  tidak selesai hingga mereka menutup usia. Setelah mereka wafat kita harus tetap berbakti kepada mereka. Bagaimana caranya?

    Menurut hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada kebaikan yang dapat aku lakukan guna berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat ?. Sabda Rasulullah saw: “ Ada, yaitu Membacakan shalawat untuk mereka, memintakan ampun atas dosa-dosanya, memenuhi janji mereka yang belum terlaksana, menyambung tali persaudaraan yang dahulu biasa mereka lakukan dan menghormati sahabat-sahabat mereka.”


    Dua hadis di atas merupakan peringatan bagi kita semua bahwa bakti anak kepada orang tua sepanjang masa. Selain itu, jangan sampai kita menyesal ketika mereka telah tiada walaupun harus tetap berbakti dengan mendoakan mereka.

    Di sisi lain, masa tua mereka akan kembali kemasa kanak-kanaknya. Dimana mereka sering lupa ( pikun ) mengucapkan sesuatu berulang-ulang, jalan yang semakin menunduk. Sebagai anak, kita harus bersabar dan selalu siap di samping mereka. Jangan marah dengan keadaan mereka atau bahkan manyakiti perasaannya dengan ucapan kasar. Tetapi tersenyumlah dan cintailah mereka sebagaimana mereka mencintai kita di saat kita lahir hingga tumbuh dewasa.

    Para pembaca budiman, selagi masih memiliki orang tua jangan pernah sia-siakan mereka. Jika selama ini  jarang memperhatikan mereka, mulailah dengan memberikan perhatian,berkata lembut, membantu kesulitan mereka, dan selalu berikan yang terbaik untuk kedua orang tua. Dan jangan biarkan air mata penyesalan hadir disaat mereka tiada karena di saat itu pula air mata penyesalan tidak lagi berguna.

    Dan bagi yang sudah tidak memiliki orang tua, atau salah satu diantaranya, ikutilah pesan Rasulullah saw untuk selalu mendoakan, membacakan shalawat, dan memintakan ampun untuk mereka.

    Jangan Makan Berlebihan dan Hindarilah Hutang


    Wasiat Lukman Al-Hakim

    Wahai Anakku...
    " Apabila kantung perutmu penuh padat, pikiranmu akan tidur, Hikmah kebijaksanaanmu menjadi tumpul dan anggota badanmu akan lemah dalam mengamalkan ibadah.
    Hindarilah berhutang, ia adalah kehinaan pada siang hari dan keresahan pada malam hari."

    renungan untuk kita semua,bahwasanya benar jika dikatakan makanlah sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. karena pada dasarnya sesuatu yang berlebihan dapat menimbulkan bencana. dapat kita lihat dari wasiat Lukman diatas, ketika seseorang yang perutnya penuh atau kekenyangan, maka tidak mudah untuk berfikir bahkan cenderung

    kebanyakan orang sesudah makan matanya pun turut terpejam, sehingga melalaikan semua pekerjaan.
     untuk itu sangat jelas sekali makan lah untuk kebutuhan bukan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu.

    nasehat Lukman yang kedua, mengajak kita untuk bekerja keras agar dapat meraih sesuatu yang kita inginkan, tidak terbuai dengan produk-produk manis diawal tetapi mencekam di akhir, salah satunya kartu utang yang diterbitkan industri perbankan yang memanjakan para pemiliknya untuk membeli barang-barang yang bahkan tidak dibutuhkannya.

    orang yang mempunyai utang selalu merasa resah dan hidup nya pun tak tenang, karena masih ada tanggungan yang harus diselesaikannya. bahkan Rasulullah saw tidak mau menyolati jenazah yang perkara utang nya belum selesai.

    boleh berhutang jika dalam keadaan terdesak, namun harus segera dikembalikan ketika kita sudah dapat mengembalikannya dan tidak boleh ditunda-tunda. selain itu, boleh berhutang untuksesuatu yang bermanfaat, misalkan untuk membuka usaha dimana kita tidak memiliki cukup dana, namun sekali lagi harus segera dikembalikan dan tidak boleh curang.

    semoga Wasiat Lukman ini dapat menerangi pikiran para pembaca agar terhindar dari dua hal tersebut, yaitu makan yang berlebihan dan berhutang untuk kesenangan.

    Nasehat tenang kematian


    NASEHAT TENTANG KEMATIAN

    Ada dua macam sang penasehat, yang bersuara dan tidak bersuara. Kedua nasehat tersebut tidak henti-hentinya memberi nasehat kepada manusia. Manusia selalu membutuhkan macam-macam nasehat yang selalu mengajak manusia ke arah ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab hati ini kadang membatu, keruh, karatan, keras,dan dibarengi dengan pikiran yang lalai akan apa itu tujuan hidup yang sesungguhnya, dunia yang terus menerus menipu hati dan pikiran kita, nafsu-pun menyuruh kita untuk berbuat kemaksiatan dan keburukan-keburukan akhlak lainnya dan setan-pun melulu bersikukuh untuk menyesatkan Anak Adam.

    Nah,dari sinilah kita sangat dan harus memerlukan dari pada nasehat itu sendiri yang bisa mengingatkan dan mengajak kita untuk selalu berbuat kebaikan  (Amal Ma’ruf Nahi Mungkar).

    Kedua nasehat tersebut adalah AL QUR’AN dan KEMATIAN, pagi dan petang Al-Qur’an selalu memperdengarkan ayat-ayat Allah Ta’ala. Al-Qur’an mengingatkan umat manusia dan menyadarkan mereka yang lalai akan tujuan hidupnya. Pun menambah keimanan orang-orang Mukmin, ”Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an orang yang takut kepada ancamanku”. (QS.QAF:45).

    Kematian Adalah Penasehat Yang Tidak Bersuara.

    Kematian senantiasa menyertai kita pagi dan petang, dalam keadaan senang atau bahagia ataupun sebaliknya. Kematian adalah nasehat dan penasehat yang paling utama dan berharga. Tetapi terkadang manusia tuli dan buta akan nasehat yang satu ini. Mereka selalu rutin mengikuti acara prosesi pemakaman, tetapi hati dan matanya sudah terlanjur keras, buta dan tuli, sehingga peristiwa apa yang  telah ia saksikan sama sekali tidak membekas di hati dan benak pikirannya. Mereka sudah asyik disibukkan oleh urusan-urusan dunia, mengejar kesenangan sesaat yang menipu. Mereka lupa bahwa ada satu perkara besar yang selalu tak lelah mengintai dan mengancam jiwanya (Kematian), mereka lupa akan nasehat yang satu ini.

     Menurut anda adakah nasehat yang lebih agung lagi dari pada nasehat kematian ini? penulis mengira anda akan menjawab TIDAK ADA! Apabila di hadapan anda ada sosok orang yang hidup, yang wajahnya berseri-seri, lisannya fasih bertutur kata dan memiliki keinginan akan kenikmatan dunia, akan tetapi wajah yang berseri-seri tadi memucat pasi, tubuh yang tadi terlihat segar bugar tiba-tiba berubah menjadi kaku tak bergerak, lisan yang tadi fasih berbicara tiba-tiba bungkam seribu bahasa dan sosok manusia yang sedap dipandang, ternyata sudah dikebumikan ke liang kubur.

    Kematian Adalah Hakekat GAIB Yang Benar-Benar nyata 

    Ada Kematian dikatakan benar-benar ada karena disaksikan oleh mata kepala manusia itu sendiri. Dan disebut gaib karena tidak ingin diingat-ingat oleh manusia itu sendiri. Kalau saja manusia itu suka mengingat akan kematian, pastilah ia akan lebih taqwa dan berhati-hati dalam manjalani keseharian kehidupannya.Rasulullah SAW pernah bersabda,”Umatku yang paling cerdas adalah mereka yang suka mengingat Kematian”.

    Kematian Lebih Dekat Dari kejapan Mata

    Apakah anda mengira bahwa kematian masih jauh di sana? Apakah anda juga mengira bahwa kematian datang di hari tua saja? Sebagai seorang mukmin, tentunya anda menjawab TIDAK! Kejadian Kiamat itu terjadi seperti kejapan mata saja atau bahkan lebih cepat lagi {An-Nahl:77}. Kiamat yang dimaksudkan ayat di atas  adalah yang berlaku umum dan tiap-tiap orang akan menghadapinya. Jika kematian datang, berarti ia tengah menghadapi Kiamatnya. Kematian ibarat kejapan mata, hanyalah garis tipis yang membedakan antara kehidupan dan kematian.

     Nah, sudahkah kita bersiap diri untuk menyambut kematian tersebut? Sudah yakinkah anda dengan segala amal ibadah anda selama ini bisa menolong anda di hadapan Allah kelak? Sudahkah anda pantas disebut sebagai mukmin sejati dengan segala amal ubudiah anda selama ini? sudahkah anda beristiqamah di dalam menjalani perintah dan larangan Allah Ta’ala dengan penuh keikhlasan?

    Dari sekian banyak soal intropeksi diri tadi, diri kitalah yang berhak dan mampu menjawabnya dengan kondisi ruhaniah kita masing-masing.Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki dan menambah tabungan amal ibadah kita. Allah akan selalu menerima setiap niatan dan amal kebajikan kita, dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepadanya. Jangan merasa sudah terlanjur banyak dosa dan noda, sehingga anda putus asa dari rahmat Allah Ta’ala.

    Selama nyawa masih di badan, segala bentuk kata taubat akan selalu diterima oleh Allah Ta’ala. Maka dari itu, mari kita bersama-sama membersihkan hati dan diri kita dari segala kotoran dosa dan maksiat yang menyebabkan kita semakin jauh dari NUR Allah Ta’ala. Ulama salaf ”Waqi’” bertutur pesan kepada muridnya Imam Syafi’i “Jauhilah maksiat, karena sesungguhnya ilmu Allah itu adalah NUR atau cahaya yang suci. Dan cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada ahli maksiat”. Orang yang gemar melakukan dosa dan maksiat tidak akan mendapat NUR Allah, kalaupun dapat pasti tidak membawa Berkah bagi kemaslahatan umat. Bertolak dari sinilah, kita sebagai barisan penuntut Nur atau ilmu Allah,harus bergegas membersihkan diri dari segala kubangan dosa dan maksiat kepada Allah. Shalat jama’ah, puasa sunah dan sedekah-nya harus kita tingkatkan lagi demi meraih mardhotillah (Ridho Allah) Wallahu A’lam…..

    Demikian pembicaraan kita dalam tema "Nasehat tentang kematian". semaga bermanfaat. Salam AkuCintaAllah.Com

    Sedekah Ikhlas Lebih Dahsyat




    "Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat."

    Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
    Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"

    Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
    Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
    Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
    Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
    Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
    "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para malaikat.

    Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

    Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
    Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
    Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

    Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

    Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

    Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

    Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.
    Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

    Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

    Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

    Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.
    Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui," demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

    Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, "Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah."
    "Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan," jawab Rasulullah.

    Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. "Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya," ujarnya.
    Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

    Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!
    Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

    Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

    Jangan Takut Miskin!

    Jangan Takut Miskin! Karena yang takut miskin menjadi Miskin Hakiki.

    Dalam era Globalisasi 2013 ini banyak kita temukan manusia yang hidup dipenuhi dengan rasa kegelisahan berkepanjangan, atau bahasa kerennya "GALAU". Galau kenapa? Galau karena takut miskin, selain galau karena masalah pasangan. karena dizaman yang serba modern ini Materi dijadikan standard dan tolaak ukur kehidupan manusia, sehingga kegersangan hatinya semakin dalam.

     Inilah fenomena nyata yang membuktikan betapa faham materialisme telah mendominasi mayoritas penduduk planet bumi. Kebanyakan orang saat ini jauh lebih takut akan kehilangan harta daripada kehilangan iman dan keyakinannya akan Allah Sang Pencipta jagat raya. Banyak orang telah menjadikan kesuksesan dalam kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya. Padahal Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kita bahwa jika dunia telah menjadi fokus perhatian utama, maka hidup seseorang bakal berantakan dan kemiskinan bakal menghantui dirinya terus-menerus.


    Jadikanlah Allah sebagai sandaran kehidupan anda! bukan materi dan harta.

    “Barangsiapa yang menjadikan dunia ambisinya, niscaya Allah cerai-beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran (kemiskinan) menghantui kedua matanya dan Allah tidak memberinya harta dunia kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR Ibnu Majah 4095)
    Dan sebaliknya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan bahwa hanya orang yang niat utamanya ialah kehidupan akhirat, maka hidupnya bakal berada dalam penataan yang rapih dan hidupnya akan dihiasi dengan kekayaan hakiki, yakni kekayaan hati. Bahkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjamin orang tersebut bakal memperoleh dunia dengan jalan dunia yang datang kepada dirnya secara tunduk bahkan hina, bukan sebaliknya, ia yang harus mengejar dunia dengan hina sehingga merendahkan martabat diri.

    “Dan barangsiapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan di dalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaannya (dengan tunduk).” (HR Ibnu Majah 4095)

    Apa yang dapat kita simpulkan dari hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam di atas? Kesimpulannya ialah jika seorang hamba hidup dengan senantiasa sadar dan yakin bahwa Allah adalah Pemberi Rezeki sesungguhnya dan bahwa tugasnya sebagai orang beriman ialah terus-menerus mengokohkan keyakinan akan hidup yang sesungguhnya ialah di kampung akhirat nan kekal, bukan di negeri dunia nan fana ini, maka dengan sendirinya Allah-pun akan membalas keyakinannya yang mulia dan benar itu dengan balasan yang selayaknya sebagaimana Allah sendiri janjikan di dalam KitabNya:

    ”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl ayat 97)

    Barangsiapa ber’amal sholeh, maka Allah jamin kehidupannya bakal baik di dunia dan Allah bakal balas dengan yang jauh lebih baik dari ’amal sholehnya di akhirat kelak. Namun, saudaraku, itu semua dengan syarat yang sangat fundamental, yaitu ”dalam keadaan beriman.” Dan iman yang paling pokok ialah ber-tauhid. Termasuk di dalamnya ialah hanya bergantung kepada Allah Yang Maha Ahad (Esa), tidak bergantung kepada apapun atau siapapun selain Allah.

    Obat agar dijauhkan dari Kemiskinan

    Oleh karenanya, Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam memberikan kabar gembira kepada setiap muwahhid (ahli tauhid). Bahwa hidup mereka bakal dijauhkan dari kemiskinan. Dan untuk memperoleh jaminan tersebut ternyata cukup dengan setiap kali pulang ke rumah membaca ayat pertama surah Al-Ikhlas sebelum masuk ke dalam rumah. Tentunya itu semua dilakukan bukan sekedar sebagai mantera berupa komat-kamit di bibir belaka. Namun ia mestilah diiringi dengan keyakinan penuh akan makna dari ucapan kalimat tersebut: “Qul huw-Allahu Ahad” (Katakanlah: Allah itu Maha Esa). Artinya, ucapkanlah sambil meyakini sedalam mungkin di dalam hati bahwa tidak ada tempat selain Allah untuk memohon dan mengharapkan datangnya rezeki berkah yang bakal mencukupi hidup kita plus hidup anak-istri plus biaya kita untuk beribadah, ber’amal, berda’wah dan berjihad di jalan Allah Ta’aala.

    Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca “Qul huw-Allahu Ahad” (surah Al-Iklash ayat pertama) ketika masuk ke dalam rumahnya, maka kefakiran (kemiskinan) bakal tertolak dari penghuni rumah tersebut dan kedua tetangganya.” (HR Thabrani)

    ”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari tekanan hutang dan kesewenang-wenangan manusia

    "Ya Allah, jauhkanlah hamba dari kefakiran hati dan harga, sesungguhnya engkaulah Maha Kaya"
     
    Support : Privacy Policy | Term Condition | Iklan
    Copyright © 2011. Aku Cinta Allah Dot Com - All Rights Reserved
    Thanks to Mas Colis | kontak admin|